Pendahuluan
Ajaran yang diturunkan Allah, Tuhan Sang Maha Pencipta adalah tuntunan bagi kebaikan seluruh ummat manusia, bukan hanya segolongan orang dengan agama tertentu saja. Oleh karenanya, kita seyogyanya mempelajari dan menerapkan ajaran tersebut untuk kemakmuran seluruh ummat manusia di bumi. Di dalam Al Qur’an, khususnya Surat Yusuf terdapat tuntunan tentang penggudangan bahan pangan. Hal ini sangat relevan untuk didiskusikan saat ini, mengingat kondisi iklim yang mulai berubah akibat pemanasan global sehingga sepanjang tahun 2010 ini hampir dalam seluruh bulan terdapat hujan. Di tahun-tahun mendatang, sangat mungkin (meskipun saya berdoa dengan sungguh-sungguh agar tidak terjadi) musim kemarau akan sangat panjang.
Sebelum mempelajari lebih detil tentang sistem penggudangan bahan pangan, sekiranya kita perlu melihat kembali tentang tuntunan tersebut. Berawal dari mimpi seorang Raja Mesir sebagaimana tertuang dalam QS. Yusuf (12) ayat 43 seperti berikut:
Dan raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sai betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi.”
Dalam ayat 46 – 49 berbunyi:
46. “Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betina) yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada oang-orang itu, agar mereka mengetahui.”
47. Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.
48. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.
49. Setelah itu akan datang tahun, dimana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).
Faktor-faktor Yang Menentukan Umur Simpan
Diskusi kali ini difokuskan pada penyimpanan bahan pangan khususnya biji-bijan seperti padi, jagung, kedelai dan kacang hijau. Terdapat beberapa hal yang penting untuk diperhatikan sebelum dilakukan penyimpanan biji-bijian. Diantaranya:
1. Kadar Air Bahan
Kadar air biji-bjian setelah panen harus diturunkan sampai berkisar antara 9 sampai dengan 14%. Kadar air yang tinggi akan memungkinkan tumbuhnya jamur, sehingga bahan pangan akan berbau apek. Jika faktor lain (suhu dan kelembaban gudang) tetap maka semakin rendah kadar air, umur simpan biji-bijian akan semakin panjang.
2. Suhu (temperatur) Udara di Ruang Penyimpanan
Suhu sangat berpengaruh terhadap umur simpan suatu bahan pangan. Suhu yang tinggi akan menyebabkan biji-bijian cepat rusak karena terjadinya kondensasi uap air di dalam ruang penyimpanan. Uap air yang terkumpul akan mendorong tumbuhnya jamur dan pembusukan. Suhu yang rendah akan memperpanjang umur simpan. Untuk itu diperlukan pertukaran udara, yaitu mengeluarkan udara panas dari dalam gudang dan menggantinya dengan udara yang dingin, misalnya udara pagi. Hal ini perlu dilakukan mengingat biji-bijian juga akan melakukan respirasi yang menghasilkan panas, sehingga suhu udara di sekitarnya meningkat.
3. Kelembaban Udara (Relatif Humidity) di Ruang Penyimpanan
Udara yang lembab mengandung uap air yang tinggi, sehingga sangat berkorelasi terhadap tumbuhnya jamur. Oleh karena itu perlu adanya penurunan kelembaban udara di ruang penyimpanan. Hal-hal yang dapat digunakan untuk menurunkan kelembaban udara adalah dengan melewatkan udara yang akan masuk ke ruang penyimpanan melalui absorben, misalnya silica gel. Dengan menggunakan silica gel maka kelembaban udara relatif kering, sehingga umur simpan biji-bijian akan lebih panjang.
Berdasarkan pada point 2 dan 3 maka seyogyanya setiap pagi hari dilakukan pertukaran udara di dalam gudang dengan udara luar yang dingin, namun telah diturunkan kelembabannya menggunakan absorben.
4. Hama Gudang
Sebelum dilakukan penyimpanan biji-bijian, maka harus dipastikan bahwa gudang terbebas dari hama. Semua lubang yang memungkinkan hama masuk ke dalam gudang harus ditutup sehingga tidak terjadi kontaminasi selama penyimpanan berlangsung. Adanya hama di dalam gudang akan meningkatkan resiko penularan suatu penyakit yang dibawa oleh hama tersebut.
First In First Out
Hal yang juga penting untuk diperhatikan adalah bahwa bahan pangan yang pertama kali dimasukkan harus dikeluarkan lebih dahulu. Hal ini perlu dilakukan agar tidak ada bahan yang terlalu lama disimpan di gudang sehingga menjadi rusak dan menyebabkan bahan yang baru dimasukkan ikut menjadi rusak. Penataan barang di dalam gudang harus diatur sedemikian rupa dan diberi kode tanggal bahan tersebut dimasukkan sehingga dapat diterapkan first in first out.
Kesimpulan
Penggudangan bahan pangan sangat perlu untuk dilakukan agar dapat digunakan sebagai cadangan makanan pada saat dibutuhkan. Musim penghujan yang berlangsung sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk menanam padi 3x setahun ---tentunya dengan menambahkan nutrisi bagi tanah secukupnya--- agar jika nantinya terjadi musim kemarau telah tersedia bahan pangan yang cukup (ESR).
Senin, 27 Desember 2010
CITA-CITA DAN KEHIDUPAN PENGAMEN CILIK (CATATAN ATAS DIALOG DI BIS ANTAR KOTA)
Sepulang kerja, di bis Jurusan Banyuwangi - Malang ---pada hari itu, Rabu tanggal 15 Desember 2010 sekitar jam 15.30--- aku berdialog dengan 2 anak perempuan, yang nota bene adalah pengamen cilik, Keduanya naik dari Wonorejo Pasuruan. Setelah mereka menyanyi dan mengedarkan kantongya, mereka duduk di deretanku, satu di sebelahku dan satunya di seberang kami. Anak yang duduk di sebelahku rambutnya dimasukkan ke topi, memegang gitar mini dan kelihatan lebih muda ketimbang yang di seberang. Keduanya memakai celana selutut dan asesoris gelang" ala ABG. Sepintas tidak ada yang istimewa!
Seperti biasa, aku tergoda untuk mengajak anak yang disebelahku untuk berbincang. Seperti inilah petikan dialog kami:
Aku: "Gak sekolah?"
Pengamen cilik: "Sekolah"
Aku: "Kelas berapa?"
Pengamen cilik: "Satu SMP"
Aku: "Rumahnya dimana?"
Pengamen cilik: "Pandaan"
Aku: "Uangnya buat apa?"
Pengamen cilik: "Bayar sekolah, sekalian beli LKS adik"
Aku: "Bapaknya kerja apa?"
Pengamen cilik: "Bapak menikah lagi, di rumah cuma tinggal sama ibu, kakek, nenek dan adik. Bapak pergi waktu adikku berumur 10 bulan"
Aku: "Ibumu kerja apa?"
Pengamen cilik: "Ibu jualan, kadang-kadang ngamen"
Aku: "Ngamen sampai jam berapa?"
Pengamen cilik: "jam 5"
Aku: "Sehari dapat berapa?"
Pengamen cilik: "Lima belas ribu berdua"
Aku: "Berarti kalau dapat uang dibagi dua?"
Pengamen cilik: "saudara, dia kakakku, kelas 3 SMP"
Kebetulan hari itu ada rejeki yang dititipkan padaku, inilah jawabannya (Sudah menjadi kelemahanku bahwa aku tidak memberi lebih untuk pengamen yang bertato dan kelihatan jarang mandi, karena aku pernah menyaksikan mereka mabok di Depan Pasar Warungdowo di Bulan Ramadhan).
Mendengar dirinya dibicarakan sang kakak berhenti bernyanyi (selama aku berbincang dia terus saja menghafal lagu dengan suaranya yang apa adanya).
Aku: "Kapan belajarnya?"
pengamen cilik: "Tadi les dulu"
Aku: "Gak ngaji?"
Pengamen cilik: "Nyampai rumah Maghrib, terus habis Isya' ngaji, nanti Diba'an di Rumahnya ...."
Setelah lelah berbincang, si adik sama kakaknya bergurau. Dan aku cuma bisa mengamati polah mereka yang saling "mengejek" (sebagai cara mereka bergurau).
Setelah itu si adik memetik gitarnya dengan tetap duduk di sebelahku sambil menyanyi lagu cinta.
Aku bilang, "belajaro lagu Bendera - Coklat itu loh"
Si adik menjawab: "Iya, Coklat"
Dia memetik gitar lagi, kali ini lagu spirit untuk para pengamen, entah lagu siapa, barangkali hasil kolaborasi para pengamen. Aku tidak hafal lagunya, tapi sepotong-sepotong sempat kudengar syairnya:
"Kami anak jalanan, tapi kami punya cita-cita
.... kena kotoran jalanan
Kami memang anak jalanan, tapi jangan hina harga diri kami..."
Sang kakak pun ikutan bernyanyi sampai tiba di pertigaan Purwosari, tempat mereka harus turun"
Aku berharap kepada para pengambil kebijakan di negeri ini, alokasikanlah dana pendidikan yang cukup untuk mereka sehingga masa depan negeri ini akan jauh lebih baik.
Ya Allah, lindungilah mereka, dari kejahatan di jalanan, Jauhkan mereka dari perbuatan-perbuatan yang dapat menghambat pencapaian cita-citanya. Amiin (ESR).
Seperti biasa, aku tergoda untuk mengajak anak yang disebelahku untuk berbincang. Seperti inilah petikan dialog kami:
Aku: "Gak sekolah?"
Pengamen cilik: "Sekolah"
Aku: "Kelas berapa?"
Pengamen cilik: "Satu SMP"
Aku: "Rumahnya dimana?"
Pengamen cilik: "Pandaan"
Aku: "Uangnya buat apa?"
Pengamen cilik: "Bayar sekolah, sekalian beli LKS adik"
Aku: "Bapaknya kerja apa?"
Pengamen cilik: "Bapak menikah lagi, di rumah cuma tinggal sama ibu, kakek, nenek dan adik. Bapak pergi waktu adikku berumur 10 bulan"
Aku: "Ibumu kerja apa?"
Pengamen cilik: "Ibu jualan, kadang-kadang ngamen"
Aku: "Ngamen sampai jam berapa?"
Pengamen cilik: "jam 5"
Aku: "Sehari dapat berapa?"
Pengamen cilik: "Lima belas ribu berdua"
Aku: "Berarti kalau dapat uang dibagi dua?"
Pengamen cilik: "saudara, dia kakakku, kelas 3 SMP"
Kebetulan hari itu ada rejeki yang dititipkan padaku, inilah jawabannya (Sudah menjadi kelemahanku bahwa aku tidak memberi lebih untuk pengamen yang bertato dan kelihatan jarang mandi, karena aku pernah menyaksikan mereka mabok di Depan Pasar Warungdowo di Bulan Ramadhan).
Mendengar dirinya dibicarakan sang kakak berhenti bernyanyi (selama aku berbincang dia terus saja menghafal lagu dengan suaranya yang apa adanya).
Aku: "Kapan belajarnya?"
pengamen cilik: "Tadi les dulu"
Aku: "Gak ngaji?"
Pengamen cilik: "Nyampai rumah Maghrib, terus habis Isya' ngaji, nanti Diba'an di Rumahnya ...."
Setelah lelah berbincang, si adik sama kakaknya bergurau. Dan aku cuma bisa mengamati polah mereka yang saling "mengejek" (sebagai cara mereka bergurau).
Setelah itu si adik memetik gitarnya dengan tetap duduk di sebelahku sambil menyanyi lagu cinta.
Aku bilang, "belajaro lagu Bendera - Coklat itu loh"
Si adik menjawab: "Iya, Coklat"
Dia memetik gitar lagi, kali ini lagu spirit untuk para pengamen, entah lagu siapa, barangkali hasil kolaborasi para pengamen. Aku tidak hafal lagunya, tapi sepotong-sepotong sempat kudengar syairnya:
"Kami anak jalanan, tapi kami punya cita-cita
.... kena kotoran jalanan
Kami memang anak jalanan, tapi jangan hina harga diri kami..."
Sang kakak pun ikutan bernyanyi sampai tiba di pertigaan Purwosari, tempat mereka harus turun"
Aku berharap kepada para pengambil kebijakan di negeri ini, alokasikanlah dana pendidikan yang cukup untuk mereka sehingga masa depan negeri ini akan jauh lebih baik.
Ya Allah, lindungilah mereka, dari kejahatan di jalanan, Jauhkan mereka dari perbuatan-perbuatan yang dapat menghambat pencapaian cita-citanya. Amiin (ESR).
Selasa, 19 Oktober 2010
Masih Banyak Orang Baik Di Negeri Ini - Berharap Menjadi Bangsa Yang Lebih Baik
Di bis jurusan Malang - Pasuruan, hari ini Minggu, 17 Oktober 2010, aku bertemu orang" baik. Meski hari libur aku tetap harus ke Pasuruan, karena hari ini kesempatan terakhirku untuk silaturrahim dengan pakde+bude yang mau pergi ke Tanah Suci. Setelah menunggu sekitar 30 menit di pintu keluar Terminal Arjosari, barulah ada bis jurusan Banyuwangi yang lewat. Penumpangnya hampir penuh. Satu-satunya tempat kosong yang masih tersisa adalah di sebelah seorang ibu berjilbab yang duduk di depan pintu belakang bis. Setelah permisi aku langsung duduk di sebelahnya dan kamipun mengobrol. Ternyata beliau sedang mengirim bekal untuk anaknya yang mondok di Podo Katon Pasuruan. Setelah beberapa kali berhenti untuk mengambil penumpang, bis melaju kencang, dengan penumpang sampai berdiri di lorong" dan karena gerah dan tidak ada AC, semua kaca dibuka lebar. Alhasil, aku langsung batuk". Hampir bersamaan, ibu yang duduk di sebelah kiriku ini dan kondektur yang berdiri di belakang kursiku bertanya, "tidak kuat angin, ya?" Dan ibu ini langsung memberiku minyak kayu putih & kondektur minta bapak yang duduk 2 bangku di depanku untuk menutup kaca yang anginnya langsung mengenaiku sambil bilang , "tolong ditutup jendelanya, ini ga kuat angin" sembari memberiku 2 biji permen pereda tenggorokan.
Di ujung perjalanan, ibu ini sudah dekat tempat seharusnya beliau turun, namun uang kembaliannya belum diberikan. Rupanya bapak kondektur terjebak di pintu depan, tidak leluasa bergerak ke bagian belakang karena penumpang yang berdiri berjubel di lorong. Setelah aku memberitahu kernet yang berdiri di pintu belakang, ternyata orang" yang berdiri di lorong ikut kernet memanggil kondektur di pintu depan. Beberapa orang bahkan membantu ibu ini dengan mengangkat tas-tas dan 2 kardus bawaan ibu tersebut. Ibu yang baik, menginginkan anaknya menjadi orang baik. Kondektur yang baik, menginspirasi para penumpang untuk berbuat baik. Andai saja semua orang menjadi lebih manusiawi seperti mereka, bertegur sapa dan saling membantu. Tidak seperti orang-orang di dalam lift, yang hemat kata. Alangkah baiknya, pastilah kita menjadi bangsa yang ramah dalam arti yang sesungguhnya, tidak hanya seperti gambaran dalam teks pelajaran PMP.
Alhamdulillah! Masih banyak orang baik di negeri ini...
Orang baik sebarkan virus kebaikan.
Di ujung perjalanan, ibu ini sudah dekat tempat seharusnya beliau turun, namun uang kembaliannya belum diberikan. Rupanya bapak kondektur terjebak di pintu depan, tidak leluasa bergerak ke bagian belakang karena penumpang yang berdiri berjubel di lorong. Setelah aku memberitahu kernet yang berdiri di pintu belakang, ternyata orang" yang berdiri di lorong ikut kernet memanggil kondektur di pintu depan. Beberapa orang bahkan membantu ibu ini dengan mengangkat tas-tas dan 2 kardus bawaan ibu tersebut. Ibu yang baik, menginginkan anaknya menjadi orang baik. Kondektur yang baik, menginspirasi para penumpang untuk berbuat baik. Andai saja semua orang menjadi lebih manusiawi seperti mereka, bertegur sapa dan saling membantu. Tidak seperti orang-orang di dalam lift, yang hemat kata. Alangkah baiknya, pastilah kita menjadi bangsa yang ramah dalam arti yang sesungguhnya, tidak hanya seperti gambaran dalam teks pelajaran PMP.
Alhamdulillah! Masih banyak orang baik di negeri ini...
Orang baik sebarkan virus kebaikan.
Jumat, 09 Juli 2010
SEPENGGAL KISAH-KISAH KEHIDUPAN
Perempuan Muda Peminta
Pagi ini, tanggal 9 Juli 2010, di pintu keluar bis Terminal Arjosari, ketika aku sedang menunggu teman yang mengajak barengan berangkat kerja ke Pasuruan, seperti biasa banyak orang yang lalu lalang di depanku. Tiba-tiba ada seorang perempuan seumuranku yang mendekatiku sambil bilang “minta uang buat beli beras”. Mendengar intonasi suaranya aku jadi ingat sepenggal kisah peminta-minta di Kampus UB yang dulu selalu bilang “mbak, mau beli baju, buat beli obat nenek saya yang sedang sakit”. Aku ingat betul wajah mbak tersebut, karena sejak aku Maba di S-1 sampai lulus S-2 dia sering beroperasi di sekitar Laboratorium Biologi dengan kata-kata yang sama. Seorang perempuan muda berambut seperti ombak (andan-andan = Bahasa Jawa) yang selalu membawa kresek hitam berisi ‘sesuatu’ yang aku tidak pernah tahu. Perempuan itulah yang kutemui pagi ini. Setelah memberi sekedarnya aku tergelitik untuk tanya “ga kerja ta?” Namun jawabannya tetap sama, “minta uang buat beli beras”. Pikiran nakalku sempat bilang, “waduh kok kayak komputer yang sudah diprogram bilang gitu”. Padahal aku pengin mengajaknya mengobrol, barangkali dia mau bekerja mencuci baju, setrika atau bersih-bersih rumah. Cukup lama aku menunggu temanku sehingga cukup waktu untuk melihat bahwa mbak-mbak di kampus UB yang telah menua tanpa bermetamorfosa itu terus menghampiri para calon penumpang yang sedang menunggu bis, dengan tetap mengucapkan, “minta uang buat beli beras”.
Kakek Tua Penjual Roti Bolu
Dahulu di kampus UB saya juga sering menemui kakek tua penjual roti bolu, yang selalu berteriak “roti, rotiiii”. Seorang kakek yang suka memakai baju hitam dan setiap hari jualan di kampus. Ketika aku menginjak kuliah S-2 di kampus yang sama, aku menemukan kakek tersebut duduk di antara laboratorium Kimia dan Fisika menjadi peminta-minta. Ketika aku dan mbak Aas melewatinya, mbak Aas bilang, “gimana ya, barangkali dia memang sudah tidak kuat untuk bekerja”. Namun setelah beberapa tahun aku lulus dan main-main ke eks tempat kos, sekitar pukul 19.30 WIB di Jl. Watu Gong aku dan dik Lilis menemukan kakek tua tersebut sedang berjualan roti bolu. Setelah cukup main, pada pukul 21.30 WIB kami pulang dengan melewati Jl. Kerto Raharjo. Betapa kagetnya aku karena kakek tersebut masih berjalan tertatih-tatih sambil membawa kotak rotinya di dada. Aku trenyuh, melihat perjuangan kakek tersebut dalam menafkahi dirinya. Mungkin, memang jiwanya bukan peminta-minta, makanya dia rela bekerja hingga larut malam karena untuk sekedar melangkahkan kakinya saja dia sudah kesulitan. Padahal jarak antara rumahnya yang di seputaran Mergosono ke Ketawang Gede butuh waktu sekitar 1 jam dengan naik mikrolet.
Pengamen Balita
Kamis, 8 Juli 2010 di bis Pasuruan – Malang yang kunaiki sepulang kerja, ada seorang balita mengamen menyanyikan lagu Gaby atau apa judulnya, kalau ga salah lagunya ada syair “… pernah ada, rasa cinta…”. Ketika aku mleihatnya, aku tahu bahwa balita itu dulunya adalah bayi yang digendong seorang pengamen perempuan yang selalu mendangkan lagu dangdut “… sungguh terpaksa, aku menyanyi….” Aku hhafal mereka, kerena hamper tiap hari ketemu di bis. Ketika aku melirik ke belakang, ternyata ibunya ikut naik ke bis, namun dia tidak menyanyi karena telah menurunkan profesinya kepada anaknya, semacam regenerasi. Balita itu adalah balita yang sama, yang dulu pernah duduk di kursi di sebelahku sementara ibunya mengamen. Balita yang dulu hanya mengenal kata “nyuwun” setelah bertanya barang apa yang kubawa. Sekarang balita itu telah bermetamorfosa menjadi pengamen cilik.
Menyimak penggalan kisah-kisah tersebut di atas, aku tidak tahu apa yang mesti kulakukan, apakah aku hanya akan menjadi pengamat atau melakukan sesuatu yang lebih bermakna untuk orang-orang yang kutemui setiap harinya. Tidakkah sebenarnya setiap pribadi berhak atas penghidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Jujur aku tidak tahu persis apa kendala mereka, apakah karena tidak adanya kemauan untuk berubah atau tiadanya akses untuk memperbaiki penghidupan mereka. Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah berinteraksi dengan mereka, mengajaknya bicara dan hal-hal kecil sekedarnya.
Pagi ini, tanggal 9 Juli 2010, di pintu keluar bis Terminal Arjosari, ketika aku sedang menunggu teman yang mengajak barengan berangkat kerja ke Pasuruan, seperti biasa banyak orang yang lalu lalang di depanku. Tiba-tiba ada seorang perempuan seumuranku yang mendekatiku sambil bilang “minta uang buat beli beras”. Mendengar intonasi suaranya aku jadi ingat sepenggal kisah peminta-minta di Kampus UB yang dulu selalu bilang “mbak, mau beli baju, buat beli obat nenek saya yang sedang sakit”. Aku ingat betul wajah mbak tersebut, karena sejak aku Maba di S-1 sampai lulus S-2 dia sering beroperasi di sekitar Laboratorium Biologi dengan kata-kata yang sama. Seorang perempuan muda berambut seperti ombak (andan-andan = Bahasa Jawa) yang selalu membawa kresek hitam berisi ‘sesuatu’ yang aku tidak pernah tahu. Perempuan itulah yang kutemui pagi ini. Setelah memberi sekedarnya aku tergelitik untuk tanya “ga kerja ta?” Namun jawabannya tetap sama, “minta uang buat beli beras”. Pikiran nakalku sempat bilang, “waduh kok kayak komputer yang sudah diprogram bilang gitu”. Padahal aku pengin mengajaknya mengobrol, barangkali dia mau bekerja mencuci baju, setrika atau bersih-bersih rumah. Cukup lama aku menunggu temanku sehingga cukup waktu untuk melihat bahwa mbak-mbak di kampus UB yang telah menua tanpa bermetamorfosa itu terus menghampiri para calon penumpang yang sedang menunggu bis, dengan tetap mengucapkan, “minta uang buat beli beras”.
Kakek Tua Penjual Roti Bolu
Dahulu di kampus UB saya juga sering menemui kakek tua penjual roti bolu, yang selalu berteriak “roti, rotiiii”. Seorang kakek yang suka memakai baju hitam dan setiap hari jualan di kampus. Ketika aku menginjak kuliah S-2 di kampus yang sama, aku menemukan kakek tersebut duduk di antara laboratorium Kimia dan Fisika menjadi peminta-minta. Ketika aku dan mbak Aas melewatinya, mbak Aas bilang, “gimana ya, barangkali dia memang sudah tidak kuat untuk bekerja”. Namun setelah beberapa tahun aku lulus dan main-main ke eks tempat kos, sekitar pukul 19.30 WIB di Jl. Watu Gong aku dan dik Lilis menemukan kakek tua tersebut sedang berjualan roti bolu. Setelah cukup main, pada pukul 21.30 WIB kami pulang dengan melewati Jl. Kerto Raharjo. Betapa kagetnya aku karena kakek tersebut masih berjalan tertatih-tatih sambil membawa kotak rotinya di dada. Aku trenyuh, melihat perjuangan kakek tersebut dalam menafkahi dirinya. Mungkin, memang jiwanya bukan peminta-minta, makanya dia rela bekerja hingga larut malam karena untuk sekedar melangkahkan kakinya saja dia sudah kesulitan. Padahal jarak antara rumahnya yang di seputaran Mergosono ke Ketawang Gede butuh waktu sekitar 1 jam dengan naik mikrolet.
Pengamen Balita
Kamis, 8 Juli 2010 di bis Pasuruan – Malang yang kunaiki sepulang kerja, ada seorang balita mengamen menyanyikan lagu Gaby atau apa judulnya, kalau ga salah lagunya ada syair “… pernah ada, rasa cinta…”. Ketika aku mleihatnya, aku tahu bahwa balita itu dulunya adalah bayi yang digendong seorang pengamen perempuan yang selalu mendangkan lagu dangdut “… sungguh terpaksa, aku menyanyi….” Aku hhafal mereka, kerena hamper tiap hari ketemu di bis. Ketika aku melirik ke belakang, ternyata ibunya ikut naik ke bis, namun dia tidak menyanyi karena telah menurunkan profesinya kepada anaknya, semacam regenerasi. Balita itu adalah balita yang sama, yang dulu pernah duduk di kursi di sebelahku sementara ibunya mengamen. Balita yang dulu hanya mengenal kata “nyuwun” setelah bertanya barang apa yang kubawa. Sekarang balita itu telah bermetamorfosa menjadi pengamen cilik.
Menyimak penggalan kisah-kisah tersebut di atas, aku tidak tahu apa yang mesti kulakukan, apakah aku hanya akan menjadi pengamat atau melakukan sesuatu yang lebih bermakna untuk orang-orang yang kutemui setiap harinya. Tidakkah sebenarnya setiap pribadi berhak atas penghidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Jujur aku tidak tahu persis apa kendala mereka, apakah karena tidak adanya kemauan untuk berubah atau tiadanya akses untuk memperbaiki penghidupan mereka. Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah berinteraksi dengan mereka, mengajaknya bicara dan hal-hal kecil sekedarnya.
Sabtu, 29 Mei 2010
MIKROBIOLOGI DAN KERUSAKAN MAKANAN
Buah, sayur, daging, unggas, makanan laut, susu dan produk turunan susu serta jenis makanan lain berbeda komposisi biokimianya, oleh karena itu kerusakannya juga dipicu oleh populasi mikrobial yang berbeda.
Beberapa perubahan tergantung kepada mikrobia yang secara alami terlibat dalam kerusakan. Dengan demikian degradasi jus apel oleh yeast (kapang) memberikan aroma alcohol terhadap jus. Kapang merubah karbohidrat menjadi alkohol.
Bakteria yang menyerang protein makanan akan mengubahnya menjadi asam amino yang akan diubah lebih lanjut menjadi produk-produk akhir yang berbau. Kerusakan sistein, sebagai contoh, menghasilkan hidrogen sulfida, membuat telur busuk sangat berbau. Kerusakan tryptophan menghasilkan indole dan skatole yang menyebabkan makanan berbau kotoran.
Dua produk lain dari metabolisme mikrobial karbohidrat adalah: (1) asam yang menyebabkan makanan menjadi kecut; (2) gas yang menyebabkan kaleng makanan tertutup menjadi kembung (mengembang). Kerusakan lemak, seperti butter yang rusak, akan menghasilkan asam-asam lemak yang berbau tengik. Makanan mungkin seperti berlumpur karena pembentukan capsule bakteri. Ada pembentukan pigmen yang memberikan beberapa warna terhadap makanan.
Daging dan Ikan
Mikroorganisme, yang menyebabkan kerusakan daging dan ikan kemungkinan terkena pada saat penanganan, pengolahan, pengemasan dan penyimpanan. Sebagai contoh, jika sepotong daging diletakkan di lantai, organisme-organisme yang terdapat di permukaan dan bercampur debu akan menempel. Bakteri dari tangan pekerja atau dari bersin mereka akan menambah jumlah mikroba. Daging yang sudah diolah kemungkinan terkontaminasi selama penanganan.
Beberapa sosis dan lain lain utamanya yang berasal dari saluran pencernaan hewan ternak mungkin mengandung sisa bakteri, khususnya spora-spora botulisme. Daging-daging organ seperti hati, jantung, dan lain-lain rusak dengan cepat, dan mungkin mengandung bakteri-bakteri yang terjebak di dalam jaringan filter mereka. Warna kehijauan pada permukaan daging selalu disebabkan oleh batang gram-positive, Lactobacillus, atau atau gram-positive, coccus, Leuconostoc.
Unggas dan Telur
Species dari Salmonella menyebabkan penyakit pada ayam dan kalkun, menular ke manusia melalui daging unggas dan telur. Telur mungkin terkontaminasi Proteus menyebabkan batang hitam (di sini H2S terakumulasi akibat pencernaan dari sistein telur), oleh Pseudomonas menyebabkan batang hijau, dan oleh Serratia marcescens, menyebabkan batang merah. Bagian utama yang terkontaminasi adalah kuning telur (putih telur menghambat pertumuhan gram-positive, karena keberadaan enzyme inhibitor, lysozyme).
Roti dan Produk-produk Roti
Kandungan roti adalah tepung, telur, gula dan telur yang selalu merupakan sumber dari kerusakan mikroorganisme. Beberapa bakteri dan jamur dapat bertahan dari temperature pembuatan roti. Beberapa species Bacillus memberikan tekstur yang lunak dan kurang baik, dengan benang-benang berserabut. Beberapa jenis roti berikut disebut ropy. Creams rools, custards dari telur keseluruhan dan whipped cream merupakan media yang baik untuk pertumbuhan species Salmonella, Lactobacillus and Streptococcus yang menghasilkan asam-asam.
Makanan-makanan Lain
Beberapa serealia, buah-buahan dan sayur-sayuran dirusak oleh mikroorganisme. Jamur dan bakteri perusak menyebabkan bau yang tidak enak. Biji-bijian dirusak oleh Jamur Aspergilius flavus. Jamur tersebut juga terdapat pada produk-produk kacang dan makanan lain. Jamur tersebut menghasilkan racun aflatoksin. Biji-bijian lain kerusakannya disebabkan oleh Claviceps purpurea, dalam biji gandum, sorgum dan barley menyebabkan ergot disease. Racun jamur menyebabkan kejang-kejang dan halusinasi (ESR). (Ditrejemahkan dari www.microbiologyprocedure.com)
Beberapa perubahan tergantung kepada mikrobia yang secara alami terlibat dalam kerusakan. Dengan demikian degradasi jus apel oleh yeast (kapang) memberikan aroma alcohol terhadap jus. Kapang merubah karbohidrat menjadi alkohol.
Bakteria yang menyerang protein makanan akan mengubahnya menjadi asam amino yang akan diubah lebih lanjut menjadi produk-produk akhir yang berbau. Kerusakan sistein, sebagai contoh, menghasilkan hidrogen sulfida, membuat telur busuk sangat berbau. Kerusakan tryptophan menghasilkan indole dan skatole yang menyebabkan makanan berbau kotoran.
Dua produk lain dari metabolisme mikrobial karbohidrat adalah: (1) asam yang menyebabkan makanan menjadi kecut; (2) gas yang menyebabkan kaleng makanan tertutup menjadi kembung (mengembang). Kerusakan lemak, seperti butter yang rusak, akan menghasilkan asam-asam lemak yang berbau tengik. Makanan mungkin seperti berlumpur karena pembentukan capsule bakteri. Ada pembentukan pigmen yang memberikan beberapa warna terhadap makanan.
Daging dan Ikan
Mikroorganisme, yang menyebabkan kerusakan daging dan ikan kemungkinan terkena pada saat penanganan, pengolahan, pengemasan dan penyimpanan. Sebagai contoh, jika sepotong daging diletakkan di lantai, organisme-organisme yang terdapat di permukaan dan bercampur debu akan menempel. Bakteri dari tangan pekerja atau dari bersin mereka akan menambah jumlah mikroba. Daging yang sudah diolah kemungkinan terkontaminasi selama penanganan.
Beberapa sosis dan lain lain utamanya yang berasal dari saluran pencernaan hewan ternak mungkin mengandung sisa bakteri, khususnya spora-spora botulisme. Daging-daging organ seperti hati, jantung, dan lain-lain rusak dengan cepat, dan mungkin mengandung bakteri-bakteri yang terjebak di dalam jaringan filter mereka. Warna kehijauan pada permukaan daging selalu disebabkan oleh batang gram-positive, Lactobacillus, atau atau gram-positive, coccus, Leuconostoc.
Unggas dan Telur
Species dari Salmonella menyebabkan penyakit pada ayam dan kalkun, menular ke manusia melalui daging unggas dan telur. Telur mungkin terkontaminasi Proteus menyebabkan batang hitam (di sini H2S terakumulasi akibat pencernaan dari sistein telur), oleh Pseudomonas menyebabkan batang hijau, dan oleh Serratia marcescens, menyebabkan batang merah. Bagian utama yang terkontaminasi adalah kuning telur (putih telur menghambat pertumuhan gram-positive, karena keberadaan enzyme inhibitor, lysozyme).
Roti dan Produk-produk Roti
Kandungan roti adalah tepung, telur, gula dan telur yang selalu merupakan sumber dari kerusakan mikroorganisme. Beberapa bakteri dan jamur dapat bertahan dari temperature pembuatan roti. Beberapa species Bacillus memberikan tekstur yang lunak dan kurang baik, dengan benang-benang berserabut. Beberapa jenis roti berikut disebut ropy. Creams rools, custards dari telur keseluruhan dan whipped cream merupakan media yang baik untuk pertumbuhan species Salmonella, Lactobacillus and Streptococcus yang menghasilkan asam-asam.
Makanan-makanan Lain
Beberapa serealia, buah-buahan dan sayur-sayuran dirusak oleh mikroorganisme. Jamur dan bakteri perusak menyebabkan bau yang tidak enak. Biji-bijian dirusak oleh Jamur Aspergilius flavus. Jamur tersebut juga terdapat pada produk-produk kacang dan makanan lain. Jamur tersebut menghasilkan racun aflatoksin. Biji-bijian lain kerusakannya disebabkan oleh Claviceps purpurea, dalam biji gandum, sorgum dan barley menyebabkan ergot disease. Racun jamur menyebabkan kejang-kejang dan halusinasi (ESR). (Ditrejemahkan dari www.microbiologyprocedure.com)
Jumat, 28 Mei 2010
MIKROBIOLOGI MAKANAN
Kebanyakan makanan merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroorganisme, terutama yang mengandung banyak bahan organik, kadar airnya cukup dengan PH netral atau kadar asamnya rendah. Makanan yang dikonsumsi oleh manusia dan hewan merupakan ekosistem dimana mikroorganisme bakteri dan jamur yang ada di makanan dalam jumlah kecil, meski tidak berbahaya, tidak dapat dicegah untuk tumbuh, membuat makanan tidak baik untuk dikonsumsi dan menyebabkan kerusakan.
Beberapa organisme tumbuh dan menghasilkan metabolit yang mempengaruhi kualitas makanan yang diperhitungkan dan tidak diperhitungkan. Sebagai contoh, fermentasi laktat susu merupakan sebuah perubahan kerusakan yang diperhitungkan, sementara pengasaman wine merupakan kerusakan mikrobiologi yang tidak diperhitungkan. Beberapa kerusakan mikrobiologi juga menghasilkan metabolit yang sangat beracun bagi manusia dan hewan. Misalnya racun yang dihasilkan oleh clostridia dalam makanan yang berprotein serta aflatoksin yang dihasilkan oleh aspergilli dalam beberapa jenis makanan.
Secara umum, makanan membawa mikroorganisme yang umumnya bersifat saprofit. Keberadaan mikroorganisme di dalam makanan tidak dapat dihindari, mereka ada sejak terkontaminasi oleh lingkungan dimana makanan dipersiapkan dan diproses. Penghilangan secara total juga sangat sulit dilakukan. Bagaimanapun pengurangan jumlah dan penurunan aktivitas mikroorganism dapat dilakukan dengan memperbaiki kondisi lingkungan. Pengetahuan mengenai faktor-faktor yang sesuai dan yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme penting untuk mengerti prinsip-prinsip kerusakan dan pengawetan makanan.
Kontaminasi Awal Bahan Makanan Segar
Makanan yang dikonsumsi oleh manusia dan hewan dapat diklasifikasikan menjadi 8 (delapan) kelompok diantaranya serealia dan produk-produk serealia, sayuran, buah, susu dan produk susu, daging dan unggas, telur, makanan laut, gula dan produk-produk gula. Kadang hanya dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu produk tanaman dan hewan.
Makanan juga dapat dikelompokkan berdasarkan stabilitas dasarnya, menjadi:
1. Makanan yang mudah rusak (perishable) seperti daging dan ikan.
2. Makanan yang agak mudah rusak (semiperishable) seperti kentang.
3. Makanan yang stabil seperti serealia, tepung dan gula.
Beberapa makanan yang stabil dan semi stabil menjadi makanan yang mudah rusak dibawah kondisi lembab.
Produk-produk Tanaman
Jaringan dalam keseluruhan, tanaman-tanaman yang sehat serta buah-buahan selalu bebas oleh mikroorganisme. Bagaimanapun, permukaan luar dari produk-produk tanaman dikontaminasi oleh mikroorganisme yang berasal dari tanah, udara, serangga, manusia yang menangani produk serta kemasan-kemasan. Serealia, sepanjang dalam kondisi kering, dapat disimpan untuk waktu yang cukup lama, asalkan tidak ada serangga.
Produk-produk gula mengandung kadar air rendah umumnya cukup menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Sirup, madu, dan sebagainya relatif stabil, namun jika dilarutkan dalam air dalam volume yang sama akan dengan mudah menjadi rusak.
Tanaman-tanaman akar seperti kentang, beet dan wortel ditempeli mikroorganisme dari tanah, namun selama kulitnya tidak terkelupas dan mengalami kerusakan sel akan relatif stabil. Sayuran daun seperti selada, bayam dan kobis juga sangat terkontaminasi. Sayuran jenis ini memiliki daun yang lebih lembut dan sangat mudah dirusak oleh mikroorganisme.
Buah-buahan yang tumbuh jauh dari tanah terkontaminasi oleh serangga dan mikroorganisme dari udara dan yang terakhir adalah mikroorganisme dari tanah. Secara umum buah-buahan kadar gulanya tinggi dan mengandung asam. Dengan demikian, dekomposisi umumnya oleh yeast (kapang), seperti pada anggur dan oleh jamur, seperti pada jeruk.
Produk-produk Hewan
Produk-produk hewan terkontaminasi oleh lingkungan dan manusia. Bagian dalam daging bebas dari mikroorganisme, selama ternak yang disembelih sehat, namun akan segera terkontaminasi oleh mikroorganisme yang berasal dari udara, bulu, maupun saluran pencernakannya. Begitu pula pada unggas, sejak masih hidup telah mengandung microbial flora. Sedangkan pada ikan, kontaminasi dapat berasal dari air darimana ikan tersebut ditangkap. Makanan laut tertentu sangat potensial dalam menyebarkan beberapa jenis mikroorganisme pathogen. Ketika ikan dibersihkan dan dipotong dalam kondisi yang buruk maka akan mudah terkontaminasi oleh mikroorganisme, contohnya filet ikan. Sedangkan telur yang tidak pecah akan terlindungi dari kontaminasi mikroorganisme oleh cangkangnya. Bagian dalam telur akan terkontaminasi mikroorganisme dibawah penyimpanan yang buruk. Bagian cangkang yang bersentuhan dengan darah, bulu, telur yang pecah dan bahan sarang sangat rawan kontaminasi mikroorganisme yang kemudian masuk ke dalam telur melalui pori-pori (ESR). (Sumber: www.microbiologyprocedure.com)
Beberapa organisme tumbuh dan menghasilkan metabolit yang mempengaruhi kualitas makanan yang diperhitungkan dan tidak diperhitungkan. Sebagai contoh, fermentasi laktat susu merupakan sebuah perubahan kerusakan yang diperhitungkan, sementara pengasaman wine merupakan kerusakan mikrobiologi yang tidak diperhitungkan. Beberapa kerusakan mikrobiologi juga menghasilkan metabolit yang sangat beracun bagi manusia dan hewan. Misalnya racun yang dihasilkan oleh clostridia dalam makanan yang berprotein serta aflatoksin yang dihasilkan oleh aspergilli dalam beberapa jenis makanan.
Secara umum, makanan membawa mikroorganisme yang umumnya bersifat saprofit. Keberadaan mikroorganisme di dalam makanan tidak dapat dihindari, mereka ada sejak terkontaminasi oleh lingkungan dimana makanan dipersiapkan dan diproses. Penghilangan secara total juga sangat sulit dilakukan. Bagaimanapun pengurangan jumlah dan penurunan aktivitas mikroorganism dapat dilakukan dengan memperbaiki kondisi lingkungan. Pengetahuan mengenai faktor-faktor yang sesuai dan yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme penting untuk mengerti prinsip-prinsip kerusakan dan pengawetan makanan.
Kontaminasi Awal Bahan Makanan Segar
Makanan yang dikonsumsi oleh manusia dan hewan dapat diklasifikasikan menjadi 8 (delapan) kelompok diantaranya serealia dan produk-produk serealia, sayuran, buah, susu dan produk susu, daging dan unggas, telur, makanan laut, gula dan produk-produk gula. Kadang hanya dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu produk tanaman dan hewan.
Makanan juga dapat dikelompokkan berdasarkan stabilitas dasarnya, menjadi:
1. Makanan yang mudah rusak (perishable) seperti daging dan ikan.
2. Makanan yang agak mudah rusak (semiperishable) seperti kentang.
3. Makanan yang stabil seperti serealia, tepung dan gula.
Beberapa makanan yang stabil dan semi stabil menjadi makanan yang mudah rusak dibawah kondisi lembab.
Produk-produk Tanaman
Jaringan dalam keseluruhan, tanaman-tanaman yang sehat serta buah-buahan selalu bebas oleh mikroorganisme. Bagaimanapun, permukaan luar dari produk-produk tanaman dikontaminasi oleh mikroorganisme yang berasal dari tanah, udara, serangga, manusia yang menangani produk serta kemasan-kemasan. Serealia, sepanjang dalam kondisi kering, dapat disimpan untuk waktu yang cukup lama, asalkan tidak ada serangga.
Produk-produk gula mengandung kadar air rendah umumnya cukup menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Sirup, madu, dan sebagainya relatif stabil, namun jika dilarutkan dalam air dalam volume yang sama akan dengan mudah menjadi rusak.
Tanaman-tanaman akar seperti kentang, beet dan wortel ditempeli mikroorganisme dari tanah, namun selama kulitnya tidak terkelupas dan mengalami kerusakan sel akan relatif stabil. Sayuran daun seperti selada, bayam dan kobis juga sangat terkontaminasi. Sayuran jenis ini memiliki daun yang lebih lembut dan sangat mudah dirusak oleh mikroorganisme.
Buah-buahan yang tumbuh jauh dari tanah terkontaminasi oleh serangga dan mikroorganisme dari udara dan yang terakhir adalah mikroorganisme dari tanah. Secara umum buah-buahan kadar gulanya tinggi dan mengandung asam. Dengan demikian, dekomposisi umumnya oleh yeast (kapang), seperti pada anggur dan oleh jamur, seperti pada jeruk.
Produk-produk Hewan
Produk-produk hewan terkontaminasi oleh lingkungan dan manusia. Bagian dalam daging bebas dari mikroorganisme, selama ternak yang disembelih sehat, namun akan segera terkontaminasi oleh mikroorganisme yang berasal dari udara, bulu, maupun saluran pencernakannya. Begitu pula pada unggas, sejak masih hidup telah mengandung microbial flora. Sedangkan pada ikan, kontaminasi dapat berasal dari air darimana ikan tersebut ditangkap. Makanan laut tertentu sangat potensial dalam menyebarkan beberapa jenis mikroorganisme pathogen. Ketika ikan dibersihkan dan dipotong dalam kondisi yang buruk maka akan mudah terkontaminasi oleh mikroorganisme, contohnya filet ikan. Sedangkan telur yang tidak pecah akan terlindungi dari kontaminasi mikroorganisme oleh cangkangnya. Bagian dalam telur akan terkontaminasi mikroorganisme dibawah penyimpanan yang buruk. Bagian cangkang yang bersentuhan dengan darah, bulu, telur yang pecah dan bahan sarang sangat rawan kontaminasi mikroorganisme yang kemudian masuk ke dalam telur melalui pori-pori (ESR). (Sumber: www.microbiologyprocedure.com)
PENGKAYAAN NUTRISI (FORTIFIKASI) MAKANAN
Sabtu, 1 Mei 2010 dan 4 (empat) Sabtu berikutnya yang diadakan dengan selang 2 minggu sekali adalah waktu yang kami nikmati bersama penduduk Desa Tempursari Kecamatan Donomulyo yang merupakan wilayah yang relatif miskin di daerah Malang Selatan. Pertemuan di Masjid Mujahidin dan mushola di sekitarnya yang dimulai pada jam 13.00 WIB dihadiri oleh pengurus Muslimat NU Ranting Tempursari dan penduduk sekitar diisi dengan transfer pengetahuan pangan mengenai pengayaan nutrisi (fortifikasi) pada produk Olahan Berbahan Dasar Singkong disertai praktek.
Singkong merupakan tanaman yang dapat tumbuh di lahan kering, seperti kawasan Donomulyo. Mayoritas penduduk Donomulyo pedesaan mengkonsumsi singkong dan jagung sebagai makanan pokok mereka. Singkong dikeringkan menjadi gaplek untuk selanjutnya diolah menjadi nasi thiwul. Sejak pertama penulis mengenal masyarakat Donomulyo pada tahun 1995 masyarakat Donomulyo pedesaan mengkonsumsi nasi tiwul dengan lauk sayur cabe, sayur buah pepaya muda, kulit belinjo dan daun singkong. Rata-rata pola makan masyarakat Donomulyo pedesaan kekurangan protein. Hal ini disebabkan karena rata-rata penduduk memiliki daya beli yang rendah, selain itu lokasi tempat tinggal mereka jauh dari pasar. Untuk memenuhi kebutuhan protein, mereka sering mengolah kepompong ulat pohon alpukat dan laron. Namun kepompong dan laron hanya ada dalam waktu tertentu saja. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya pengkayaan nutrisi protein pada singkong.
Komponen utama singkong adalah karbohidrat, oleh karena itu diperlukan pengkayaan nutrisi dengan protein, lemak, vitamin (A, B, C, D, E, K) dan mineral (yodium, calcium dan magnesium) agar makanan olahan singkong mengandung nutrisi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Protein dan lemak diperlukan sebagai sumber energi, sedangkan vitamin dan mineral meskipun termasuk unsur mikro namun keberadaannya sangat penting bagi kesehatan. Sebagai contoh, kekurangan yodium dapat menyebabkan penyakit gondok, kretin (kerdil) dan tidak cerdas, sedangkan kekurangan calcium dan magnesium menyebabkan tulang keropos (osteophorosis). Pengkayaan nutrisi dapat dilakukan dengan menambahkan bahan makanan yang tersedia di sekitar lokasi tempat tinggal seperti kacang hijau, kacang kedelai, ikan, teri, udang, telur, ayam, daging, belalang, laron, kepompong dan lain-lain.
Singkong dapat dimanfaatkan sebagai makanan pokok maupun jajanan. Begitupun pengkayaan nutrisi dapat dilakukan terhadap olahan singkong sebagai makanan pokok maupun jajanan. Sebagai contoh, pengkayaan nutrisi gethuk singkong dengan kacang hijau, wijen, margarine, susu, coklat bubuk dan sebagainya. Pengkayaan nutrisi juga dapat dilakukan bersamaan dengan membuat inovasi produk olahan singkong seperti brownies singkong keju dan sebagainya. Sedangkan sebagai makanan pokok, misalnya nasi thiwul (berasal dari singkong kering yang ditepungkan kemudian dikukus) atau nasi sawut (berasal dari singkong yang dipasrah kemudian dikukus) dapat diperkaya dengan ikan, telur, daging,
Untuk mempermudah proses penambahan nutrisi serta mempercepat waktu pengolahan singkong perlu dilakukan beberapa trik, yaitu dengan memperkecil ukuran singkong (misalnya dengan disawut) sehingga luas permukaan singkong semakin besar, luas sentuh uap panas dengan singkong semakin banyak dan singkong cepat masak. Selain itu, semakin kecil ukuran singkong akan semakin mudah menghaluskannya, sehingga mempercepat proses pengolahan lanjutan.
Pengkayaan nutrisi juga dapat dilakukan terhadap bahan pangan lainnya, dengan memperhatikan kandungan unsur nutrisi bahan tersebut dan menambahkan unsur lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Misalnya, karena tubuh kita membutuhkan yodium, maka kita perlu menambahkan yodium dari luar. Hal ini perlu dilakukan karena yodium yang terkandung di dalam bahan pangan secara alami tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Penambahan yodium sebenarnya dapat dilakukan terhadap bahan pangan apapun, namun karena pertimbangan akan terjadinya perubahan rasa makanan tersebut maka penambahan yodium dilakukan terhadap garam. Hampir setiap makanan selalu ditambah garam yang dikombinasikan dengan gula untuk memperkuat rasa makanan tersebut.
Kita perlu melakukan inovasi terhadap makanan kita sehari-hari agar asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh lengkap sesuai kebutuhan tubuh dan menimbulkan kebosanan terhadap makanan tertentu. Misalnya dengan menambakan biji kapri dan sosis pada dadar jagung dan menyajikan jus buah-buahan dalam menu sehari-hari. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah meneliti apakah makanan yang kita konsumsi telah mengandung serat yang berfungsi untuk membantu pencernaan. Untuk itu ada baiknya kita menambahkan agar-agar ketika memasak nasi sehingga nasi yang kita konsumsi telah mengandung karbohidrat dan serat. Hal ini untuk menjaga agar asupan nutrisi yang kita konsumsi lengkap mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan serat (ESR).
Singkong merupakan tanaman yang dapat tumbuh di lahan kering, seperti kawasan Donomulyo. Mayoritas penduduk Donomulyo pedesaan mengkonsumsi singkong dan jagung sebagai makanan pokok mereka. Singkong dikeringkan menjadi gaplek untuk selanjutnya diolah menjadi nasi thiwul. Sejak pertama penulis mengenal masyarakat Donomulyo pada tahun 1995 masyarakat Donomulyo pedesaan mengkonsumsi nasi tiwul dengan lauk sayur cabe, sayur buah pepaya muda, kulit belinjo dan daun singkong. Rata-rata pola makan masyarakat Donomulyo pedesaan kekurangan protein. Hal ini disebabkan karena rata-rata penduduk memiliki daya beli yang rendah, selain itu lokasi tempat tinggal mereka jauh dari pasar. Untuk memenuhi kebutuhan protein, mereka sering mengolah kepompong ulat pohon alpukat dan laron. Namun kepompong dan laron hanya ada dalam waktu tertentu saja. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya pengkayaan nutrisi protein pada singkong.
Komponen utama singkong adalah karbohidrat, oleh karena itu diperlukan pengkayaan nutrisi dengan protein, lemak, vitamin (A, B, C, D, E, K) dan mineral (yodium, calcium dan magnesium) agar makanan olahan singkong mengandung nutrisi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Protein dan lemak diperlukan sebagai sumber energi, sedangkan vitamin dan mineral meskipun termasuk unsur mikro namun keberadaannya sangat penting bagi kesehatan. Sebagai contoh, kekurangan yodium dapat menyebabkan penyakit gondok, kretin (kerdil) dan tidak cerdas, sedangkan kekurangan calcium dan magnesium menyebabkan tulang keropos (osteophorosis). Pengkayaan nutrisi dapat dilakukan dengan menambahkan bahan makanan yang tersedia di sekitar lokasi tempat tinggal seperti kacang hijau, kacang kedelai, ikan, teri, udang, telur, ayam, daging, belalang, laron, kepompong dan lain-lain.
Singkong dapat dimanfaatkan sebagai makanan pokok maupun jajanan. Begitupun pengkayaan nutrisi dapat dilakukan terhadap olahan singkong sebagai makanan pokok maupun jajanan. Sebagai contoh, pengkayaan nutrisi gethuk singkong dengan kacang hijau, wijen, margarine, susu, coklat bubuk dan sebagainya. Pengkayaan nutrisi juga dapat dilakukan bersamaan dengan membuat inovasi produk olahan singkong seperti brownies singkong keju dan sebagainya. Sedangkan sebagai makanan pokok, misalnya nasi thiwul (berasal dari singkong kering yang ditepungkan kemudian dikukus) atau nasi sawut (berasal dari singkong yang dipasrah kemudian dikukus) dapat diperkaya dengan ikan, telur, daging,
Untuk mempermudah proses penambahan nutrisi serta mempercepat waktu pengolahan singkong perlu dilakukan beberapa trik, yaitu dengan memperkecil ukuran singkong (misalnya dengan disawut) sehingga luas permukaan singkong semakin besar, luas sentuh uap panas dengan singkong semakin banyak dan singkong cepat masak. Selain itu, semakin kecil ukuran singkong akan semakin mudah menghaluskannya, sehingga mempercepat proses pengolahan lanjutan.
Pengkayaan nutrisi juga dapat dilakukan terhadap bahan pangan lainnya, dengan memperhatikan kandungan unsur nutrisi bahan tersebut dan menambahkan unsur lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Misalnya, karena tubuh kita membutuhkan yodium, maka kita perlu menambahkan yodium dari luar. Hal ini perlu dilakukan karena yodium yang terkandung di dalam bahan pangan secara alami tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Penambahan yodium sebenarnya dapat dilakukan terhadap bahan pangan apapun, namun karena pertimbangan akan terjadinya perubahan rasa makanan tersebut maka penambahan yodium dilakukan terhadap garam. Hampir setiap makanan selalu ditambah garam yang dikombinasikan dengan gula untuk memperkuat rasa makanan tersebut.
Kita perlu melakukan inovasi terhadap makanan kita sehari-hari agar asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh lengkap sesuai kebutuhan tubuh dan menimbulkan kebosanan terhadap makanan tertentu. Misalnya dengan menambakan biji kapri dan sosis pada dadar jagung dan menyajikan jus buah-buahan dalam menu sehari-hari. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah meneliti apakah makanan yang kita konsumsi telah mengandung serat yang berfungsi untuk membantu pencernaan. Untuk itu ada baiknya kita menambahkan agar-agar ketika memasak nasi sehingga nasi yang kita konsumsi telah mengandung karbohidrat dan serat. Hal ini untuk menjaga agar asupan nutrisi yang kita konsumsi lengkap mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan serat (ESR).
Langganan:
Postingan (Atom)
