Rabu, 06 Mei 2009

BIJAK MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA

Pendahuluan

Tak terasa Idul Fitri menjelang tiba. Banyak hal harus dipersiapkan. Tentunya para Ibu harus berkutat dengan aneka macam kebutuhan yang memerlukan anggaran yang lebih banyak dari bulan-bulan lainnya. Pada edisi kali ini kami membahas tentang pengelolaan keuangan keluarga. Meski agak terlambat, kami juga mengupas tentang tips-tips agar tetap sehat dan bugar selama puasa. Semoga bermanfaat adanya. Kami segenap tim Hasanah Centre menyampaikan Selamat hari Raya Idul fitri 1429H, Mohon Maaf Lahir dan Batin...

Keluarga adalah kelompok orang yang tinggal dalam satu rumah, diikat dalam suatu tali perkawinan, ada hubungan darah, ada ikatan batin, ada tanggung jawab masing-masing anggota. Di dalam sebuah keluarga selalu terjadi kerjasama antar anggota keluarga. Sebuah keluarga juga selalu mengambil keputusan bersama untuk menyelesaikan masalah-masalah keluarga ataupun masalah perorangan dari setiap anggota keluarga. Oleh karena itu kerjasama, komunikasi dan interaksi yang baik sangat penting dalam memjaga teguhnya sebuah keluarga. Hal tersebut juga diperlukan dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaan keuangan keluarga, agar berdampak baik pada keharmonisan seluruh keluarga.

Keuangan keluarga harus kita kelola dengan sebaik-baiknya, karena apabila salah kelola akan berpengaruh terhadap keharmonisan dan kesejahteraan keluarga. Aliran keuangan yaitu pemasukan dan pengeluaran harus diatur sesuai dengan program keluarga. Sebenarnya inti dari dari sebuah pengelolaan keuangan adalah agar gaji atau pemasukan keuangan keluarga selain cukup digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, juga bisa disisihkan untuk tabungan masa depan. Nah, tabungan ini bisa benar-benar untuk masa depan, bisa juga untuk memenuhi kebutuhan tak terduga.

Berdasarkan penggunaan penghasilan tiap bulan, pengeluaran keluarga bisa dibagi menjadi lima pos, yaitu:

1. Pos pengeluaran untuk biaya hidup sehari-hari

2. Pos pengeluaran cicilan utang

3. Pos untuk tabungan masa depan

4. Pos untuk tabungan untuk jangka waktu yang lebih pendek

5. Pos untuk zakat dan shodaqoh

Sekarang kita sudah mengetahui apa saja pos-pos pengeluaran wajib tiap bulan. Lalu, mana dari keempat pos tadi yang harus didahulukan?

Prioritas pertama tentunya membayar cicilan utang. Jika tidak hidup kita tidak akan tenang dikejar-kejar penagih utang. Untuk pos ini dana yang diperlukan adalah maksimal 30% dari penghasilan per bulan. Itu sudah mencakup semua cicilan utang, misalnya cicilan rumah atau kendaraan. Prioritas kedua adalah tabungan jangka pendek. Tak butuh banyak kok, minimal hanya 10 % dari penghasilan per bulan (lebih besar, lebih baik). Berikutnya adalah tabungan jangka panjang. Biasanya tabungan jenis ini digunakan untuk biaya pendidikan anak-anak di masa yang akan datang, cadangan renovasi rumah dan sebagainya. Saat ini terdapat berbagai jenis tabungan yang bisa dipergunakan untuk membantu kita menabung dalam jangka panjang seperti Tabungan Pendidikan, tabungan haji, atau tabungan hari tua. Kita boleh menentukan jangka waktu dan jumlah tabungan sesuai dengan perencanaan dalam keluarga. Banyaknya Bank Syariah yang tumbuh berkembang di masyarakat akan membantu kita untuk merencanakan tabungan masa depan ini agar tetap berada dalam koridor syar’i.

Berikutnya adalah pengeluaran untuk biaya hidup sehari-hari. Ini mencakup makan, transportasi, pulsa, hiburan, dan sebagainya. Mengapa kebutuhan sehari-hari ditempatkan sebagai prioritas terakhir? Karena kebutuhan ini lebih fleksibel. Artinya, kita bisa melihat kebutuhan apa dari pos ini yang dananya bisa ditekan atau dikurangi. Misalnya anggaran untuk isi ulang telepon, bisa kita batasi dengan menahan keinginan untuk mengobrol melalui telepon genggam. Yang harus Anda sisihkan untuk pos keempat idealnya adalah 50 % dari penghasilan per bulan.

Yang juga tidak boleh dilupakan adalah pos untuk zakat dan shodaqoh. Zakat adalah hak yang telah ditentukan besarnya yang wajib dikeluarkan pada harta-harta tertentu nash-nash syara’ yang khusus, seperti emas, binatang ternak hasil panen yang telah mencapai nilai tertentu. Sedangkan shadaqoh, dalam kaitannya dengan harta adalah pemberian kepada orang-orang fakir, orang yang membutuhkan, ataupun pihak-pihak lain yang berhak menerima shadaqah, tanpa disertai imbalan. Seberapapun nilainya, shodaqoh adalah wujud kebaikan keluarga. Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh 261 ”Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”

Perencanaan dan pengaturan keuangan keluarga yang baik akan membuat keluarga kita berjalan rasional, terhindar dari pemborosan dan perilaku konsumtif yang berlebihan. Sebaiknya Bapak dan Ibu bersikap transparan terhadap anak-anak dalam masalah keluarga agar mereka bisa memahami kondisi keuangan keluarga. (DST/SAM)

Pesan kebajikan bulan ini :

Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, akan berkumpul menjadi rangkaian pribadi indah yang menyenangkan sesama....

AGAR TETAP SEHAT DAN BUGAR SELAMA PUASA

1. Mengkonsumsi makanan sehat, yakni nasi, sayur,lauk, dan buah dalam jumlah yang cukup saat sahur dan buka puasa. Perbanyak makan buah dan sayur seperti pepaya, apel, jeruk, sari wortel dan sebagainya.

2. Hindari makanan yang mengandung gula tinggi, gorengan, dan kuning telur karena mengandung lemak buruk. Udang, cumi-cumi, kerang, kepiting, jeroan, otak, dan hati yang mengandung kolesterol tinggi, daging merah lebih baik juga dihindari selama puasa.

3. Makan secukupnya, jangan berlebihan baik pada saat sahur maupun berbuka

4. Jangan Tinggalkan Olahraga. Menjalankan puasa bukan berarti berhenti total berolahraga. Justru aktivitas fisik tetap dibutuhkan untuk menjaga kelancaran peredaran darah agar kita tidak mudah loyo. Pilih olahraga ringan yang tak membutuhkan energi berlebih, seperti lari-lari kecil atau jalan kaki. Sebaiknya lakukan olahraga menjelang waktu berbuka.

5. Konsumsi Cukup Air. Air merupakan zat yang sangat dibutuhkan tubuh. Lebih dari 60 % tubuh kita terdiri dari air. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik setiap organ tubuh kita membutuhkan air. Tanpa air yang cukup tubuh akan mengalami gangguan. Untuk itu perbanyak minum air untuk simpanan dalam tubuh supaya semua organ berfungsi dengan baik. Yang disebut air disini bukan hanya berupa air putih, tapi susu dan teh pun juga termasuk di dalamnya. Supaya kebutuhan tubuh tercukupi, aturlah agar Anda minum delapan gelas air sebelum menjalani puasa esok hari.

6. Memperbanyak ibadah, baik sholat tarawih, membaca alqur’an, mengikuti kajian maupun membaca buku-buku keagamaan. Saat berpuasa Insya Allah kita akan menjadi lebih mudah untuk dekat kepada kebaikan sehingga mudah-mudahan juga akan mendekatkan kita kepada Ridho dan keberkahan dari Allah SWT (dikutip dari berbagai sumber)

Sabtu, 02 Mei 2009

SUSU

Pendahuluan

Meski Idul Fitri telah berlalu, namun perkenankan kami, seluruh Tim Kreatif Buletin Hasanah memohon maaf karena belum optimal dalam memberikan pelayanan kepada pembaca. Bersamaan dengan merebaknya isu susu berformalin, pada edisi kali ini kami mengajak pembaca untuk mengingat kembali mengenai “Susu”. Apa pesan Al-Qur’an mengenai susu, unsur/zat apa saja yang terkandung dalam susu, kenapa susu penting bagi kesehatan, jenis-jenis susu dan cara memilih susu yang baik. 

Apa itu susu?

Menurut QS. An-Nahl (16) Ayat 66: “Dan sesungguhnya bagi kamu, pada binatang ternak benar-benar terdapat pelajaran. Kami menyuguhi kamu minum sebagian dari apa yang berada dalam perutnya, antara sisa-sisa makanan dan darah, yaitu susu murni yang mudah ditelan bagi para yang meminumnya".

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah Volume 7, Cetakan ke VII, Mei 2007 menjelaskan bahwa para ulama memahami ---antara sisa-sisa makanan dan darah--- dalam arti susu berada antara keduanya, karena binatang menyususi apabila telah mencernakan makanannya, maka apa yang menjadi susu berada anatara pertengahan antara sisa makanan dan darah itu. Yang menjadi darah berada di bagian atas dan sisa makanan berada di bagian bawah. Allah dengan kuasa-Nya memisahkan ketiga hal itu. Darah dipompa oleh hati dan mengalir melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh berseberangan dengan organ tubuh yang mengalirkan urine dan mengeluarkan sisa makanan. Thahir Ibn ‘Asyur menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ---antara--- disini bukan tempat, tetapi maksudnya adalah bahwa susu bukanlah darah, karena susu tidak terus-menerus mengalir pada salurannya sebagaimana darah pada pembuluh darah. Susu mirip dengan sisa makanan, tetapi dia juga bukan sisa makanan, karena susu adalah sesuatu yang suci, bergizi dan bermanfaat.

Para penyusun kitab Tafsir al-Muntakhab yang terdiri dari sekian pakar Mesir mengomentari proses terjadinya susu dengan menyatakan bahwa: “Pada buah dada binatang menyusui terdapat kelenjar yang bertugas memproduksi air susu. Melalui urat-urat nadi arteri, kelenjar-kelenjar itu mendapatkan suplai berupa zat yang terbentuk dari darah dan chyle (zat-zat dari sari makanan yang telah dicerna) yang keduanya tidak dapat dikonsumsi secara langsung. Selanjutnya kelenjar-kelenjar susu itu menyaring dari kedua zat itu unsur-unsur penting dalam pembuatan air susu dan mengeluarkan enzim-enzim yang mengubahnya menjadi susu yang warna dan aromanya sama sekali berbeda dengan zat aslinya”. Akankah kita membantah dan menentang kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi?

Unsur/zat apa saja yang terkandung dalam susu?

Unsur/zat yang terdapat dalam susu antara lain: protein, karbohidrat, lemak, asam organik, mineral, vitamin dan enzym. Unsur protein terdiri atas fraksi-fraksi kasein dan whey proteins, sedangkan karbohidrat yang dominan di dalam susu adalah gula laktosa. Lemak susu terdiri atas 95-96% trigliserol, dilengkapi dengan asam lemak bebas, sterol dan lain-lain. Asam sitrat merupakan asam organik yang dominan di dalam susu (1.8 g/l) dan asam lemak lain hasil degradasi dari laktosa. Mineral yang terdapat di dalam susu terdiri atas potassium, kalsium, sodium, magnesium, phospat, zinc, aluminium dan lain-lain. Enzym yang terdapat dalam susu merupakan jenis enzyme hidrolase dan oksidoreduktase (Belitz and Grosch, 1987). Jelas sudah, susu mengandung unsur/zat yang sangat penting bagi kesehatan. Masihkah ragu untuk mengkonsumsinya?

Jenis binatang ternak yang menghasilkan susu antara lain: unta, sapi, kambing dan domba. Selanjutnya, kita mengelompokkan susu dalam 2 kategori besar yaitu susu segar dan susu olahan. Susu segar adalah susu yang belum mengalami pengolahan dalam bentuk apapun. Sedangkan susu olahan adalah susu yang telah mengalami proses pengolahan seperti pemanasan, pendinginan, pembekuan, fermentasi dan lain-lain, baik yang merubah bentuk susu segar dari cair menjadi bentuk lain ataupun tidak dengan tambahan bahan lain ataupun tidak. Contoh-contoh hasil susu olahan antara lain: susu cair pasteurisasi dan sterilisasi, susu bubuk, keju, es krim, kerupuk susu, permen susu dan lain-lain.

Susu Segar

Susu segar harganya lebih terjangkau oleh kantong kita karena dapat dibeli dengan harga Rp 5.000,- per liter. Untuk kita yang mau meluangkan sedikit waktu untuk merebus, membeli susu segar merupakan alternatif terbaik karena nilai gizi susu segar lebih tinggi dibandingkan susu olahan. Perlu diketahui bahwa nilai gizi susu menurun karena proses pengolahan, semakin tinggi suhu yang digunakan untuk mengolah susu maka nilai gizinya akan semakin menurun. Begitupun dengan lamanya waktu pengolahan juga mempengaruhi nilai gizi susu, karena semakin lama waktu pengolahan maka nilai gizi susu akan semakin menurun. Namun kita harus hati-hati dalam memilih susu segar yang akan kita beli. Ciri-ciri susu segar yang baik adalah sebagai berikut: (1) Memiliki bau, rasa dan warna normal dengan suhu maksimal 8oCelcius; (2) Tidak mengandung kotoran ataupun benda asing, tidak mengandung unsur pemalsuan, misal susu impor dari China yang ditambah melamin untuk mengelabuhi pengawas pada saat dilakukan uji protein; (3) Tidak mengandung cemaran logam berbahaya seperti timbal, tembaga, seng, timah, raksa dan arsen; (4) Tidak mengandung cemaran mikroba seperti E.coli, Salmonella dan S. aureus; (5) Kadar lemak minimal 3%, bahan kering tanpa lemak minimal 8%, protein minimal 2,7%; (6) Tingkat keasaman 4,5 sampai dengan 7,0oSH; (7) Tidak mengandung mengandung antibiotik, pestisida dan insektisida.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kita sebaiknya membeli susu segar yang “tidak pecah” yang dihasilkan oleh produsen yang terpercaya (lihat nama produsen yang tercantum di dalam kemasan), yaitu yang memerah sapinya secara higienis, menampungnya dalam wadah stainless steel, menyimpannya dalam pendingin (cooling unit) dan menjualnya dalam kulkas atau menjajakan dalam termos pendingin. Karena pada suhu tinggi perkembangan mikroba akan lebih cepat. Hal ini menghindarkan kita dari mengkonsumsi susu yang mengandung bakteri berbahaya yang akan memicu gangguan pencernaan seperti mual, diare, typhus dan gangguan lain yang dapat menyebabkan kematian.

Susu Olahan

Proses pengolahan susu segar menjadi susu olahan memerlukan standar pengawasan tinggi agar terhindar dari cemaran, tetap higienis dan memiliki standar kualitas rasa, warna, dan aroma yang baik. Beberapa jenis pemanasan yang biasa dilakukan pada susu olahan antara lain adalah :

1. Pasteurisasi, yakni pemasakan susu pada suhu pada suhu 85oC selama 2 detik atau 71 – 74oC selama 15 – 40 detik atau pada 62 – 65oC setidaknya selama 30 menit, dengan pengadukan dan kemudian pendinginan. Pasteurisasi dimaksudkan untuk mempertahankan aroma dan kesegaran susu. Susu pasteurisasi harus disimpan dalam suhu dingin supaya tidak cepat rusak. Susu pasteurisasi tidak memiliki daya tahan yang cukup lama (± 4 jam sejak dikeluarkan dari pendingin.

2. Ultra High Temperature (UHT), kita sering menjumpai kode UHT pada susu yang dijual dalam bentiuk kemasan. Pada pemanasan dengan metode ini susu segar dipanaskan langsung secara cepat pada suhu yang sangat tinggi (135-140oC), selama 2-4 detik kemudian dikemas secara aseptik.

3. Sterilisasi, adalah proses pemansan dengan memasak susu pada suhu 110-120oC selama 10-20 menit.

Pemanasan susu mengakibatkan perubahan pada komponen gisi susu, antara lain degradasi thiamin, memicu reaksi maillard yang akan menyebabkan perubahan warna pada susu (browning), perubahan membran globula lemak, perubahan senyawa flavor (bau) pada susu segar. Namun demikian pemanasan tersebut penting untuk mencegah susu dari cemaran mikroba patogenik.

Susu Bubuk

Adalah konsentrat susu kering yang diperoleh melalui proses pengeringan semprot. Susu bubuk secara fisik berbentuk tepung lembut, berwarna putih atau putih kekuningan, bersifat mudah larut dalam air. Susu bubuk sering ditambahkan madu, vitamin, mineral, minyak ikan dan lain-lain yang diperlukan untuk pertumbuhan untuk menggantikan unsur/zat yang rusak karena proses pengolahan. Berbagai merk susu bubuk untuk bayi dijual di pasaran, namun semuanya tidak memiliki kelengkapan gizi yang bisa menandingi air susu ibu.

Cara memilih susu olahan

1. Pilihlah susu olahan yang diproduksi oleh perusahaan yang konsen terhadap kesehatan dan keselamatan konsumen, bukan yang mengejar keuntungan semata sehingga melakukan berbagi pemalsuan untuk mengelabui konsumen;

2. Perhatikan tanggal kedaluwarsa yang tercantum di dalam kemasan.

3. Pilih susu olahan dalam kemasan yang masih baik, kaleng/botol/karton susu tidak rusak (penyok/menggelembung) untuk menghindari keracunan karena susu tercemari oleh mikroba berbahaya yang masuk melalui lubang kemasan.

INGAT!!! Segera minum air putih yang banyak, air kelapa dan pergi ke dokter apabila keracunan susu yang telah terkontaminasi mikroba berbahaya. (ESR/SAM).

Pesan Kebaikan Bulan Ini:

Cinta keluarga akan mendorong kita untuk menghasilkan karya terbaik dan menjauhkan kita dari masalah. Tunjukkan cinta dengan mengajarkan kebenaran dan menghidangkan makanan yang bergizi seimbang & tidak mengandung zat berbahaya yang diperoleh secara baik. Ajaran kebenaran akan menjauhkan kita dari masalah dan asupan nutrisi yang cukup akan menyehatkan badan & memberi kesempatan untuk melakukan hal-hal hebat! Ingatlah, makanan yang tidak aman akan mendatangkan penyakit!

MAKANAN YANG BAIK

Pendahuluan

Edisi perdana Buletin Hasanah yang diterbitkan oleh Hasanah Center mengajak pembaca semua kembali “menginjak bumi”, melihat kembali cara hidup kita selama ini, terutama dari cara mempersiapkan makanan yang kita santap sehari-hari. Kita semua sudah tahu bahwa dari makanan yang kita hidangkan akan diperoleh kesehatan ataupun penyakit. Apabila makanan diperoleh dengan cara yang baik, dipilih, dicuci dan dimasak dengan benar serta disajikan dengan perpaduan bahan-bahan yang mengandung zat gizi yang seimbang, Insya Allah akan menyehatkan tubuh kita. Namun apabila makanan tersebut dipersiapkan dengan cara sebaliknya, mudah-mudahan Allah mengampuni dan menjauhkan kita dari segala jenis penyakit.

Pembaca, bagaimana sebenarnya makanan yang baik itu?

Sudah seharusnya kita mencari penjelasan dari kitab yang telah diwahyukan Allah melalui Nabi Muhammad SAW, yaitu Al-Qur’an. Dalam Surat Al Ma’idah (QS. 5) Ayat 3 ada tuntunan yang berbunyi sebagai berikut:

Diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan yang disembelih atas berhala-berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, itu adalah kefasikan. Pada hari itu orang-orang yang kafir telah berputus asa untuk (mengalahkan) agama kamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Ku-cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagi kamu. Maka barang siapa karena kelaparan dan tanpa sengaja berbuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Sebagaimana tertuang dalam Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, Volume 3, Cetakan X, Januari 2008).

Makanan yang baik adalah makanan yang halal untuk dimakan. Makanan yang halal dimakan merupakan kebalikan dari makanan yang telah diharamkan. Jadi, untuk menentukan apakah makanan yang kita makan baik atau tidak, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu apakah makanan tersebut halal atau haram untuk dimakan. Dari tuntunan tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh memakan:

1. Bangkai, kecuali ikan dan belalang. Jadi, ikan dan belalang boleh dimakan.

2. Darah. Di sebagian masyarakat kita masih ada yang mengenal “dedeh” yaitu darah ayam, kambing ataupun sapi yang digoreng, kadang-kadang dimakan sebagai lauk dan kadang-kadang dipakai sebagai bahan rujak uleg. Maka, ajaklah saudara-saudara kita yang masih memakan “dedeh” untuk meninggalkannya. Perlu juga diwaspadai bahwa kita harus mencuci ikan, ayam dan daging sebersih mungkin sebelum memasaknya agar tidak ada darah yang masih terikut dalam makanan. Akan lebih selamat jikalau kita mencuci ikan, ayam dan daging dibawah air yang mengalir, yaitu dengan cara diguyur langsung dibawah kran.

3. Daging babi, termasuk kulit dan isi perutnya (jerohan). Perlu ditekankan bahwa kita tidak memakan babi disebabkan memang hukumnya tidak boleh, bukan karena alasan yang lain. Meskipun ada yang berdalih kalau sudah dimasak dengan suhu yang tinggi maka cacing pita yang mungkin terkandung di dalamnya telah mati, kita tetap tidak boleh memakan babi.

4. Makanan yang dibuat dari hewan yang walaupun dari jenis yang halal dimakan seperti ayam, kambing dan sapi, namun niat menyembelihnya untuk persembahan kepada Nyi Roro Kidul atau dedemit dan arwah.

5. Makanan dari hewan yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas yang tidak sempat disembelih sebelum mati. Jadi kalau ayam kita diterkam musang tapi tidak sampai mati, kemudian kita sembelih ayam tersebut, maka dagingnya boleh dimakan.

6. Makanan yang diperoleh dengan merampas hak orang lain seperti mencuri, korupsi, menipu, mengambil hak anak yatim dan sebagainya.


Setelah kita yakin bahwa makanan yang akan kita makan halal, maka kita perlu mengetahui cara terbaik untuk mempersiapkan dan mengolah makanan tersebut agar makanan yang kita makan “aman” bagi kesehatan kita. Oleh karenanya kita perlu memperhatikan proses penyiapan makanan mulai dari membeli bahan mentah, membersihkannya, memasaknya sampai dengan menyajikannya. Selain itu kita juga mesti memilah-milah makanan berdasarkan kebutuhan tubuh kita (ada tidaknya gangguan dalam tubuh kita).

Memilih Bahan Mentah

Pilihlah buah, sayur, ikan dan daging yang masih segar dan beras yang tidak berbau apek. Kenapa? Karena buah dan sayuran yang masih segar nilai gizinya masih tinggi dan beras yang apek akan menghasilkan nasi yang tidak enak. Ikan dan daging yang tidak segar serta beras yang apek kemungkinan besar terkontaminasi (tercemari) oleh mikrobiologi (makhluk hidup yang kecil seperti jamur, ragi dan bakteri) yang merugikan karena menghasilkan racun dan menyebabkan kita sakit. Kita sering mendengar ada keracunan setelah menyantap nasi kotak atau prasmanan hajatan, hal ini biasanya terjadi karena menu sambel goreng yang berasal dari hati yang sudah dicemari oleh mikrobiologi yang merugikan. Kita mesti berpedoman bahwa makanan yang baik dan sehat dihasilkan dari bahan yang segar.

Mencuci Bahan Mentah

Masukkan bahan mentah di dalam wadah yang berlubang cukup untuk melewatkan air, misalnya saringan. Cucilah bahan mentah langsung dibawah kran atau slang yang airnya mengalir agar obat-obatan pertanian seperti pestisida yang menempel pada buah dan sayur hilang terbawa air. Sisa pestisida sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan sakit. Mancuci dengan cara demikian juga dapat menghilangkan darah yang menempel pada ikan dan daging akan terpisah, karena darah haram untuk dimakan.

Memasak Makanan

Masaklah makanan secukupnya karena makanan yang terlalu matang nilai gizinya sudah rusak. Semakin lama proses memasak, maka zat gizi yang terkandung di dalam makanan tersebut akan semakin menurun. Banyak dari kita yang lebih menyukai telur yang gosong dibanding yang tidak gososng, ketahuilah saudaraku bahwa telur yang gosong proteinnya telah mengalami kerusakan (terjadi denaturasi protein). Selain itu, janganlah memasak sayuran dalam wadah yang tertutup rapat karena dengan begitu suhu dalam tempat memasak akan terlalu tinggi dan menyebabkan sayuran tersebut terlalu masak (over cooked) sehingga warnanya tidak segar lagi dan nilai gizinya menurun drastis.

Menyajikan Makanan

Sajikanlah makanan dengan perpaduan yang tepat sehingga orang yang memakan terpenuhi kebutuhan gizinya, baik itu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Tidak kalah pentingnya untuk memperhatikan makanan yang harus dipantang oleh penderita penyakit tertentu. Misalnya penderita diabetes berpantang makanan yang manis-manis. (ESR)