Selasa, 23 Juni 2009

ANTARA LUMPIA DAN BUKU

Pendahuluan

Marilah kita perhatikan keadaan sekitar ---di pasar, di perempatan lampu merah, di terminal, di dalam bis kota ataupun bis antar kota--- ada banyak sekali anak-anak usia sekolah yang sedang “bekerja” baik di jam sekolah ataupun di luar jam sekolah. Di antara anak-anak tersebut ada yang mengamen, berjualan makanan dan minuman dan bahkan ada yang mengemis. Sekadar berbagi cerita mengenai pengalaman pribadi, saya sering merasa berlaku tidak adil kepada mereka. Seperti umumnya, kita cenderung memberi uang kepada pengamen dan pengemis yang menghampiri kita, namun kita cenderung tidak membeli “barang dagangan” yang dijajakan oleh pedagang asongan karena merasa tidak membutuhkan barang tersebut. Untuk meminimalisasi perasaan bersalah tersebut saya berusaha membeli dagangan yang dijajakan pedagang asongan untuk selanjutnya diberikan kepada pengamen yang datang kemudian. Untuk keperluan tersebut, biasanya saya membeli buku, permen atau kacang yang dijual di dalam bis. Buku yang sering saya beli adalah Tuntunan Sholat, Kumpulan Doa dan Buku Cerita. Kepada pengamen dewasa biasanya saya berikan permen yang saya beli dari pedagang asongan dan pernah aqua gela bekal saya naik bis. Hal ini saya lakukan karena saya pernah melihat sekelompok pengamen sedang “minum minuman keras” di depan pasar di siang hari pada bulan Ramadhan. Sedangkan kepada pengamen anak-anak, sejak dulu sebelum memberikan sesuatu kepada mereka saya selalu bertanya, apakah dia masih sekolah atau tidak. Kepada mereka yang masih sekolah saya biasanya mengingatkan agar rajin sekolah dan memberi uang lebih dengan harapan dia tidak menjadi pengamen lagi karena saya mengkhawatirkan perkembangan mereka jika terus hidup di jalanan. Namun rupanya harapan saya sulit terwujud, karena apa yang saya lakukan belum memadai untuk membantu mereka keluar dari masalah keuangan. Dan saya sering terkaget-kaget mendapati pengamen yang tadinya “anak manis” menjadi “anak yang perlu perhatian khusus”. Oleh karena itu, saya mengganti model tersebut karena berkesimpulan bahwa cara saya perlu diperbaiki. Saat ini, apabila ketemu pengamen anak-anak saya menambah pertanyaan saya “apakah kamu suka membaca? mau apa tidak kalau diberi buku?”. Biasanya mereka menganggukkan kepala dan mau menerima buku yang saya berikan. Namun suatu saat, saya sangat kaget karena dijawab tidak mau diberi buku dan dia hanya mengambil sepotong lumpia yang saya ulurkan kepadanya bersamaan saya menawarkan buku tersebut.

Kejadian di atas sangat membekas di ingatan saya dan saya selalu bertanya di dalam hati, Pertanda apakah ini? Apakah kebutuhan anak tersebut masih sebatas makan? Apakah budaya membaca belum menyentuh anak tersebut? Pembaca, marilah kita tumbuhkan budaya membaca di lingkungan sekitar kita, membaca Al-Quran, buku pelajaran, artikel yang mendidik di majalah, koran dan internet. Yang tidak kalah pentingnya adalah membaca tanda-tanda Kebesaran Allah dari setiap hal yang terhampar di depan mata kita.

Kebutuhan Dasar Manusia

Kebutuhan dasar manusia dapat dibedakan menjadi 2 kategori yaitu kebutuhan jasmani dan rohani. Hal-hal yang dapat digolongkan kebutuhan jasmani adalah makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal dan kesehatan. Sedangkan kebutuhan rohani meliputi pendidikan, kasih sayang dan keamanan. Lalu kebutuhan mana yang harus didahulukan? Apakah kebutuhan jasmani dulu atau rohani dulu? Alangkah baiknya kalau keduanya diselaraskan, antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani diupayakan bersamaan agar kita tumbuh menjadi pribadi yang seimbang. Dalam kisah di atas, lumpia merepresentasikan kebutuhan jasmani dan buku merepresentasikan kebutuhan rohani kita. Dan pengamen anak tersebut belum mengerti bahwa dia selain harus memenuhi kebutuhan makan bagi perutnya juga harus memikirkan makanan yang cocok bagi otaknya.

Pemenuhan kebutuhan dasar manusia harus diupayakan sekuat tenaga seakan-akan kita akan hidup selamanya. Kita harus rajin menjemput rejeki yang dihamparkan oleh Allah di bumi dan menjauhkan diri dari sikap lemah dan malas. Allah memberikan tuntunan di dalam QS. Ar-Ra’d (13) ayat 11 yang berbunyi :

...Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri...

Karena itu kita harus menanamkan semangat kepada diri sendiri, keluarga dan orang-orang sekitar kita untuk selalu kerja keras dan cerdas. Pekerjaan apapun yang kita jalani sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agama adalah baik, upayakan selalu melakukan perbaikan-perbaikan cara kerja agar lebih efisien dan mencapai hasil yang memuaskan. Setiap tahapan pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati dan cinta, InsyaAllah akan memberikan imbal balik yang lebih kepada kita, baik dalam bentuk materiil ataupun non materiil (kepuasan, perasaan berguna, dan lain sebagainya). Terpenuhinya kebutuhan akan makanan, pakaian dan tempat tinggal secara langsung berdampak terhadap kesehatan. Terpenuhinya ketiga hal tersebut secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama akan meningkatkan derajat kesehatan kita.

Pemenuhan kebutuhan rohani seperti pendidikan, kasih sayang dan keamanan harus diupayakan berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Pendidikan, baik pendidikan agama maupun pendidikan umum akan menyempurnakan upaya kita dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan memberikan makanan bagi jiwa kita. Pendidikan agama akan memberikan rambu-rambu bagi kita untuk melangkahkan kaki dan setiap upaya bagi kita untuk menjemput rejeki dari Allah. Pendidikan agama juga mengantarkan kita untuk mengenal Tuhan, perlu kita sadari bahwa kebutuhan akan Tuhan termasuk kebutuhan dasar. Sudah menjadi kodrat manusia selalu butuh Tuhan sebagi tempat menggantungkan segala harapan dan mengeluhkan segala persoalan hidup, karenanya kita selalu memanjatkan doa-doa kepada-NYA. Pendidikan agama juga mengajarkan kita bagaimana bersikap sebagai hamba kepada Tuhan, sebagai anak kepada orang tua serta bagaimana memperlakukan sudara, teman, tetangga dan alam sekitar kita. Sedangkan pendidikan umum memberikan pengetahuan dan keterampilan bagaimana menjalani hidup ini dari tahap satu ke tahap berikutnya tentang bagaimana melakukan suatu pekerjaan, menyiapkan makanan, menjahit baju, membangun rumah, mencegah dan mengobati penyakit dan lain sebagainya.

Perlu kita sadari, bahwa untuk dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani diperlukan ilmu. Jika kita ingin mendapatkan (kemakmuran) dunia maka harus dengan ilmu begitupun jika kita ingin mendapatkan (keselamatan) akhirat harus dengan ilmu. Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Mujãdalah (58) ayat 11 :

...Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat...

Ilmu pengetahuan dan keterampilan dapat kita peroleh melalui pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal terikat dengan persyaratan menyangkut kurikulum dan standart dari setiap jenjang, selain itu peserta didik harus memenuhi kriteria tertentu sehingga tidak setiap orang mendapatkan pendidikan formal sesuai dengan yang diinginkan. Namun tidak perlu khawatir karena kita tetap memiliki kesempatan yang besar untuk mengaktualisasi diri agar pengetahuan dan keterampilan kita dapat memenuhi tuntutan jaman.

Kita harus banyak membaca untuk menambah pengetahuan kita di semua bidang kehidupan. Apa yang harus dibaca? Mengingat apa yang kita baca akan berpengaruh terhadap kualitas pribadi kita dikarenakan intisari dari setiap bacaan merupakan nutrisi bagi jiwa, maka harus dipilih bacaan yang baik bagi diri dan keluarga kita. Kita tidak hanya belajar membaca dari apa yang sudah tertulis di Al-Qur’an, buku dan majalah, namun kita juga harus membaca tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta yang bertebaran di muka bumi ini. Kita dapat belajar dari setiap kejadian yang kita dan orang-orang sekitar alami, serta dari fenomena alam yang berlangsung terus-menerus tanpa henti. Coba kita renungkan, siapakah yang mengatur alam semesta ini sehingga planet-planet tidak saling bertabrakan? siapa yang mewarnai bunga sehingga keindahannya mampu menepis lara? Siapa pula yang memberi anugerah kepada burung-burung sehingga suaranya merdu bak bulu perindu? Tiada lain yang mampu melakukannya kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tertidur. Ayat-ayat Al-Qur’an yang turun pertama kali menekankan hal ini, sebagaimana tersebut dalam QS. Al-’Alaq (96) ayat 1 – 5 :

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Belajar dapat dilakukan melalui interaksi dengan orang-orang di sekitar kita. Carilah lingkungan yang baik, tidak peduli miskin ataupun kaya, memiliki kedudukan yang tinggi ataupun tidak yang penting mereka memegang teguh kejujuran dan aqidah. Hal ini perlu diperhatikan karena dalam interaksi sosial, disadari atau tidak kita akan saling memberikan pengaruh. Jauhilah lingkungan pergaulan yang mendewakan harta dan gemerlap dunia tanpa memperdulikan bekal akhirat (ESR).

Pesan Kebaikan bulan ini:

Tanamkan niat, luangkan waktu dan sisihkan rejeki ! Tengok kanan dan kiri, buatlah dirimu berarti…


Minggu, 07 Juni 2009

BERBUAT BAIK KEPADA KEDUA ORANG TUA

Pendahuluan

Pernahkah Pembaca merenungkan tentang apa yang telah dilakukan oleh orang tua kita sejak kita di dalam kandungan sampai dengan sekarang? Ibu telah melahirkan, merawat dan mendidik kita semampu mereka. Ayah telah bekerja keras untuk mencarikan makanan, pakaian dan tempat tinggal yang nyaman serta membayari biaya sekolah kita. Meski kita sadari bahwa orang tua ---ayah dan ibu--- tidaklah “sempurna” namun cobalah untuk berbesar hati menerima keterbatasan dan memaafkan kesalahan mereka, apabila mungkin akibat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan mereka telah menyebabkan Pembaca “pernah” tidak mendapatkan apa yang Pembaca cita-citakan, atau mungkin akibat keputusan mereka “yang kurang tepat” berdampak terus terhadap kehidupan kita sekarang. Akan lebih bijaksana jika Pembaca lebih mengingat kebaikan yang telah dengan optimal mereka upayakan daripada mengungkit apa yang tidak kita dapatkan. Betapa susah payahnya seorang ibu mengandung karena pada saat tersebut sering mual, tubuhnya menjadi lemah, lekas lelah, sulit tidur dan pada saat melahirkan seorang ibu mempertaruhkan kesehatan mereka. Yang dilakukan seorang ayah tidak kalah beratnya karena mereka tetap harus mencari nafkah untuk keluarga meski cuaca sedang hujan badai ataupun terik matahari menyengat kulit. Mari kita ingat, berapa kali sepanjang usia kita, merepotkan orang tua dan membuat kesalahan kepada mereka? Mereka tetap saja memaafkan tanpa syarat.  

  Pembaca, mari kita tinjau kembali apa yang telah kita perbuat untuk orang tua sebagai wujud bakti kepada mereka. Seberapa sering kita menjenguk untuk memastikan bahwa mereka cukup makan dan sehat? Kita seringkali disibukkan urusan pekerjaan dan diri sendiri sehingga tidak ingat bahwa setidaknya kita meluangkan waktu untuk sekadar menelepon menanyakan keadaan mereka. Allah SWT sebagaimana tertuang di dalam Al-Qur’an berulangkali memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua kita. Untuk mengingat kembali tuntunan tersebut kita akan mempelajari apa-apa yang “seharusnya” dan “tidak seharusnya” kita lakukan kepada kedua orang tua serta dampak yang ditimbulkan apabila kita tidak mengindahkan tuntunan tersebut.  

Referensi Al Qur’an

  1. QS. Al-Baqarah (2) ayat 83: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil,”Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.  
  2. QS. Al-Baqarah (2) ayat 215: Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah,”Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.
  3. QS. An-Nisa (4) ayat 36: Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.  
  4. QS. Al-Isra (17) ayat 23 -25: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat.  
  5. QS. Al-’Ankabūt (29) ayat 8: Dan kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.  
  6. QS. Lukman (31) ayat 14 - 15: Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.  
  7. QS. Al-Ahqāf (46) ayat 15 – 18: Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tua. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ”ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau Ridlo’i; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” Mereka itulah orang-orang yang Kami terima amal baiknya yang telah mereka kerjakan, dan (orang-orang) yang Kami maafkan kesalahan-kesalahanya, (mereka akan menjadi) penghuni-penghuni surga. Itu janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, ”Ah”. Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu? Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah (seraya berkata), ”Celakalah kamu, berimanlah! Sungguh, janji Allah itu benar.” Lalu dia (anak itu) berkata,” Ini hanyalah dongeng orang-orang dahulu. Mereka itu orang-orang yang telah pasti terkena ketetapan (azab) bersama umat-umat dahulu sebelum mereka, dari (golongan) jin dan manusia. Mereka adalah orang-orang yang rugi.  

Ujian dari Orang Tua?

Berbuat baik kepada orang tua membutuhkan ”pengertian” yang besar. Orang tua seringkali meminta kita melakukan sesuatu hal di saat kita sedang dikejar deadline pekerjaan atau saat sedang dituntut konsentrasi 100% karena menghadapi masalah yang pelik di kantor ataupun di rumah tangga. Sebelum kita menolak permintaan orang tua, alangkah bijaksana jika kita merenungkan apa yang dulu dilakukan orang tua kita di saat mereka sedang makan lalu kita mengganggunya dengan minta dilayani ini dan itu, mereka segera menghentikan makannya dan dengan sabar melayani kita. Kita seringkali banyak alasan untuk tidak mengabulkan apa yang diinginkan orang tua. Ketika kita masih sekolah atau kuliah kita sering memakai alasan ”harus mengerjakan PR” untuk menolak permintaan ibu untuk membeli keperluan dapur di warung. Ketika sudah kerja dan tinggal di luar kota kita seringkali memakai alasan ”tidak libur dan takut lelah kalau harus pulang balik” ketika orang tua meminta kita mudik karena mereka kangen. Kita mungkin merasa risih karena orang tua sering menelepon kita untuk sekedar menanyakan urusan ini dan itu yang menurut kita ”remeh” dan tidak harus merepotkan kita. Di saat orang tua menyuruh kita segera menikah, kita sering menjawab sekenanya saja atau bahkan menggerutu ”memang mudah mencari pasangan”. Astaghfirullah! Ampunkan kami ya Allah, karena hati kami yang lemah dan kerdil ini seringkali dipenuhi nafsu untuk ”tetap menjadi anak yang nakal, suka merajuk dan selalu ingin diperhatikan orang tua”, sehingga kami sering membuat ulah yang merepotkan orang tua.

Doa dan Harapan Orang Tua bagi Anaknya  

Secara umum orang tua tidak pernah mengharapkan anak mereka membalas kebaikannya dengan materi yang berlimpah. Mereka cukup puas melihat anak mereka hidup berdasar ajaran agama yang telah diteladankan sejak kecil, sehat dan memiliki pekerjaan yang baik. Mereka tidak melihat anaknya melanggar ajaran agama dan direpoti dengan segala permasalahan ekonomi anaknya saja, rata-rata sudah sangat bersyukur, karena hal itu menandakan keberhasilan mereka mengantar anak-anaknya mandiri.


Apa yang Sebaiknya Dilakukan Terhadap orang Tua

Mengingat jerih payah orang tua dalam mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, mendidik dan membiayai kita, maka tidak akan pernah ada kata “cukup” untuk membalas kebaikan mereka. Setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan:

  1. Memastikan bahwa orang tua cukup makan. Sudah menjadi kewajiban anak untuk memastikan bahwa orang tua kita terpenuhi kebutuhan makan dalam jumlah yang cukup dengan nutrisi lengkap agar kesehatan mereka terjaga. Wahai para menantu, jangan pernah lupa bahwa anda mendapati pasangan hidup anda dalam keadaan telah dewasa, terdidik dan memiliki pekerjaan yang layak, ---itu semua adalah hasil jerih payah mertua anda---, karenanya jangan pernah lupa bahwa di dalam penghasilan pasangan hidup anda terkandung kewajiban untuk menafkahi orang tuanya.  
  2. Memastikan bahwa orang tua tinggal di tempat yang layak dan aman. Keadaan sekarang seringkali “memaksa” kita untuk tinggal terpisah dengan orang tua. Hal ini menjadi hambatan tersendiri bagi kita untuk bisa selalu mengetahui keadaan kesehatan dan keamanan orang tua kita. Meski komunikasi dapat dilakukan melalui telepon tetapi ada hal-hal yang tidak dapat kita lakukan dengan segera ketika mereka membutuhkan bantuan kita, misalnya ketika mereka mendadak sakit. Oleh karena itu, jika karena keadaan sehingga kita “tidak mampu” melakukannya sendiri setiap harinya, alangkah baiknya kita membayar orang untuk menemani, membantu pekerjaan rumah dan merawat orang tua kita. Namun hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk kita tidak rajin menelepon dan mengunjungi orang tua.  
  3. Memastikan bahwa orang tua kita mengisi hari tuanya dengan kegiatan yang bermanfaat. Mungkin ketika muda orang tua kita sibuk bekerja mencari nafkah sehingga tidak sempat memperdalam pengetahuan dan pengamalan agamanya, maka alangkah baiknya jika kita mendorong orang tua untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melakukannya. Jika orang tua memiliki keterbatasan ilmu, sudah selayaknya kita memanggilkan guru bagi mereka. Kegiatan tersebut dapat diselingi dengan mengerjakan hobi yang mereka sukai, misalnya berkebun sayur mayur, bunga, buah atau memelihara ikan. Jika orang tua memiliki hobi membaca, alangkah senangnya mereka jika kita bisa membayarkan langganan majalah ataupun koran yang mereka sukai. Jangan biarkan orang tua kita menghabiskan sisa umurnya dengan menonton sinetron yang kurang bermutu setiap hari.  
  4. Bagi Pembaca yang memiliki rejeki yang cukup, alangkah senangnya jika orang tua kita diajak untuk menunaikan ibadah umroh atau haji bersama. Ibadah umroh atapun haji mensyaratkan kemampuan fisik dan materi, oleh karenya jika kita berangkat ke tanah suci bersama, maka kita dapat menjalankan Rukun Islam kelima sekaligus mendampingi orang tua menunaikannya juga (ESR).  
       

Pesan Kebaikan bulan ini:

Cintai, hormati dan penuhi hak-hak orang tua kita sebelum kesempatan itu tertutup untuk selamanya

Minggu, 17 Mei 2009

MENGENAL BAHAN TAMBAHAN MAKANAN (BTM)

Pendahuluan

Pentingkah bagi anda untuk mengetahui komposisi makanan yang anda beli? Apakah anda menyempatkan waktu untuk membaca daftar komposisi makanan tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk membelinya? Seberapa sering anda mendengar berita tentang kasus makanan yang mengandung formalin, mengandung boraks, mengandung zat pewarna kain dan zat berbahaya lainnya? Bagaimana jadinya kalau makanan yang mengandung bahan yang berbahaya tersebut tanpa kita ketahui termakan oleh kita ataupun orang-orang yang kita sayangi.  
Pengetahuan tentang bahan tambahan makanan juga penting bagi Pembaca yang memiliki usaha pengolahan makanan (catering, warung, dan lain sebagainya) sehingga anda dapat menjamin bahwa makanan yang anda sajikan aman bagi tubuh. Hal ini penting untuk keberlanjutan usaha anda.  
Oleh karena itu, pada edisi kali ini, kami akan mengulas seputar bahan tambahan makanan (BTM) yang berfungsi sebagai pewarna, pemanis, penyedap rasa dan aroma, antioksidan, pengemulsi, pengatur keasaman, pemutih dan sebagainya. Setelah mengenal aneka BTM, maka diharapkan Pembaca dapat memilih makanan yang mengandung BTM yang tidak berbahaya bagi kesehatan anda dan keluarga serta melaporkan kepada pihak yang berwenang jika mendapati makanan yang mengandung BTM melebihi ambang batas penggunaan ataupun mengandung bahan tambahan yang tidak diijinkan untuk makanan. 



Pengertian

Pengertian bahan tambahan makanan (BTM) merupakan bahan atau campuran bahan yang ditambahkan ke dalam makanan dan terikut di dalam kegiatan produksi, pengolahan, pengemasan dan atau penyimpanan dan tidak menjadi komponen utama dari makanan. Bahan tambahan atau turunannya umumnya tertinggal di makanan, tetapi dalam beberapa kasus bahan tersebut mungkin juga dihilangkan selama pengolahan (Belitz and Grosch, 1987).


Asal BTM

Apabila dilihat dari asalnya, BTM dapat digolongkan menjadi 2 jenis yaitu BTM alamiah dan BTM sintetis. Lesitin, asam sitrat, dan sebagainya dapat diperoleh dari sumber alamiah, namun dapat juga disintetis dari bahan kimia yang mempunyai sifat serupa dengan bahan alamiah sejenis, baik susunan kimia maupun sifat metabolismenya, misalnya β-karoten dan asam askorbat. Pada umumnya bahan sintetis mempunyai kelebihan, yaitu lebih pekat, lebih stabil dan lebih murah, tetapi ada pula kelemahannya yaitu sering terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan, dan kadang-kadang bersifat karsinogenik yang dapat merangsang terjadinya kanker.


Tujuan Penggunaan

Penggunaan BTM dimaksudkan untuk mempertinggi:

1. Nilai nutrisi makanan. Bahan tambahan seperti vitamin, mineral, asam amino dan turunan asam amino digunakan untuk meningkatkan nilai gizi dari makanan. Makanan tertentu juga mensyaratkan penggunaan agen pengental, pengemulsi, pemanis dan lain sebagainya.

2. Nilai sensoris makanan. Warna, bau, rasa dan konsistensi atau tekstur --- yang sangat penting bagi nilai sensoris makanan --- mungkin menurun selama pengolahan dan penyimpanan. Beberapa penurunan dapat dikoreksi atau diperbaiki dengan bahan tambahan seperti pigmen (zat warna), senyawa aroma atau peningkat aroma. Perbaikan ”bau yang tidak enak (off flavor)”, sebagai akibat oksidasi lemak atau minyak misalnya, dapat diperbaiki dengan menambahkan antioksidan.

3. Umur makanan. Karena umumnya bahan makanan berasal dari hasil pertanian yang mudah rusak dan musiman, maka sangat diperlukan upaya untuk memperpanjang umur bahan makanan tersebut agar senantiasa tersedia makanan sepanjang tahun meskipun sedang tidak musim panen. Upaya-upaya memperpanjang umur simpan makanan termasuk di dalamnya perlindungan melawan kerusakan yang disebabkan oleh mikrobia seperti jamur, kapang dan bakteri, yaitu dengan menambahkan bahan yang menghambat pertumbuhan mikrobia, dan menggunakan bahan tambahan yang dapat menekan dan mencegah perubahan fisik dan kimia di dalam makanan. Hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan pengatur keasaman (pH) atau stabilisasi tekstur dengan bahan pengental, yaitu polisakarida.

Mengingat penggunaan bahan tambahan tersebut berhubungan dengan makanan maka BTM atau produk turunannya harus tidak beracun pada kadar penggunaan yang direkomendasikan. Penggunaan BTM sebanding dengan efek keracunan kronis, terutama potensi menimbulkan kanker, menyebabkan cacat pada janin dan mutasi gen. Umumnya penggunaan BTM dilakukan hanya ketika diperlukan untuk menambahkan nutrisi dan nilai sensoris makanan, atau untuk pengolahan dan penanganannya. Penggunaan BTM diatur oleh lembaga yang berbeda di tiap negara namun semuanya mengharmonisasikan antara pengetahuan tentang sifat racun dari BTM tersebut dengan kebutuhan untuk teknologi makanan modern. Sebagai contoh akan diuraikan beberapa bahan tambahan yang sering kita jumpai dalam makanan, antara lain:

1. Vitamin. Ada banyak produk makanan yang diperkaya dengan vitamin untuk memperbaiki kehilangan selama pengolahan ataupun untuk meningkatkan nilai gizi. Beberapa penambahan vitamin penting dilakukan terutama untuk jus buah-buahan, sayuran kaleng, tepung dan roti, susu, margarin dan makanan bayi. Beberapa vitamin memiliki efek tambahan, misalnya asam askorbat dapat memperbaiki adonan, tetapi dapat berfungsi seperti tokoferol sebagai antioksidan. Karotenoid dan riboflavin digunakan untuk memberikan warna, sementara niasin memperbaiki stabilitas warna daging segar, daging asap dan asinan.

2. Asam-asam amino. Peningkatan nilai gizi makanan dengan penambahan asam amino esensial dan turunannya sering dilakukan utamanya pada makanan bayi dan anak-anak. Jenis-jenis asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh diantaranya isoleucine, leucine, lysine, methionine, cystine, tyrosine, phenylalanine, threonine, tryptophan dan valine.

3. Mineral-mineral. Makanan secara umum merupakan sumber mineral dalam jumlah yang cukup. Penambahan biasanya dilakukan untuk zat besi --- karena sering tidak tersedia secara penuh --- dan untuk kalsium, magnesium, tembaga dan seng. Penambahan iodium pada garam sangat penting untuk daerah yang kekurangan iodium.

4. Senyawa aroma. Penggunaan senyawa aroma baik yang berasal dari bahan alami maupun sintesis sangat penting hingga mencapai angka 42,5% dari keseluruhan BTM, misalnya aroma jeruk pada nutrisari dan lain sebagainya.

5. Penguat rasa. Penguat rasa makanan yang sering ditemukan di pasaran adalalah monosodium glutamate (MSG) untuk memberikan rasa gurih. Konsumsi MSG dalam waktu yang lama akan mendorong sindrom restoran china dengan ciri-ciri: mengantuk, sakit kepala, sakit perut dan pengerasan tulang sendi.

6. Pengganti gula. Pengganti gula adalah senyawa-senyawa yang digunakan seperti gula (sukrosa, glukosa) untuk pemanis tetapi metabolismenya tanpa mempengaruhi insulin. Pengganti gula yang penting adalah gula-gula alkohol, sorbitol, xylitol dan mannitol, sedangkan fruktosa digunakan untuk keperluan tertentu.

7. Pemanis. Pemanis adalah senyawa alami ataupun sintetis yang menyediakan persepsi manis, namun tidak diperuntukkan atau mengabaikan nilai gizi dalam penggunaannya. Pemanis yang sering digunakan adalah sakarin dan cyclamate.

8. Pewarna. Sejumlah pewarna alami tersedia dan digunakan untuk memperbaiki/mengkoreksi kerusakan/perubahan warna selama pengolahan ataupun penyimpanan. Karotenoid, paling sering digunakan diikuti dengan pigmen bit merah dan warna coklat karamel. Produk-produk yang sering menggunakan pewarna antara lain: permen, minuman, makanan pencuci mulut, sereal, es krim dan produk susu.

9. Asam-asam. Penggunaan asam biasanya ditujukan untuk memberi rasa asam serta untuk menghambat pertumbuhan mikrobia sehingga makanan menjadi lebih awet. Asam yang sering digunakan antara lain: asam asetat, propionat dan sorbat dimaksudkan sebagai agen anti mikrobia, sedangkan succinic acid dengan gliserol digunakan sebagai pengemulsi dalam industri roti.

10. Basa. Natrium hidroksida bersama dengan sejumlah garam alkali lain digunakan untuk berbagai tujuan, misalnya natrium hidroksida digunakan untuk menghilangkan rasa pahit pada buah-buahan dan NaHCO3 untuk meningkatkan reaksi Maillard dalam proses pabrikasi coklat.

11. Agen antimikrobia. Menghilangkan mikroflora dengan metode fisik seperti pemanasan, pendinginan, pembekuan dan sebagainya tidak selalu dimungkinkan, oleh karenaya diperlukan agen anti mikrobia, diantaranya asam benzoat 0,05 – 0,1% yang sering digunakan dengan maksud untuk pengawetan dan banyak ditemukan pada produk minuman berkarbon dioksida, salad buah-buahan, jelly dan lain-lain.

12. Antioksidan. Lemak dipergunakan secara luas dalam makanan dan oksidasi lemak menghasilkan penurunan kualitas aroma produk, yaitu menghasilkan bau yang tidak enak. Oksidasi lemak dapat dicegah dengan menghilangkan oksigen atau dengan menambahkan antioksidan sebagai BTM. Antioksidan yang penting, baik alami maupun sintetis, antara lain: tokoferol dan ester-ester asam askorbat.

13. Sekuestran (Chelating agents). Sekuestran diperlukan dalam pengolahan makanan untuk menstabilkan warna, aroma dan tekstur makanan. Beberapa kandungan alami makanan dapat berperan sebagai sekuestran antara lain asam-asam karboksilat (oksalat, succinic), asam-asam hidroksi (laktat, malat, tartarat, sitrat) asam-asam amino, peptida, protein dan porfirin.

14. Surface-Active Agents (surfaktan). Surfaktan digunakan untuk stabilisasi emulsi antara minyak dengan air, contoh pada proses pembuatan margarin, mayonnaise dan es krim, pada pembuatan roti digunakan untuk memperbaiki struktur remah-remah roti, pengembang volume produk dan mencegah retrogradasi pati (roti menjadi apek), dalam pembuatan coklat diperlukan untuk meningkatkan sifat reologi dan mencegah ”fat blooming”, sedangkan pada tepung instant dan ekstrak bumbu-bumbu berperan dalam pelarutan. Surfaktan dapat diperoleh secara alami dan sintetis. Surfaktan alami yang sering digunakan antara lain; lesitin, glikolipid dan saponin, sedangkan yang termasuk surfaktan sintetis antara lain: stearyl-2-lactylate, mono-, diacylglycerols dan ester-ester asam asetat, sitrat, tartarat dan laktatnya dan sebagainya.

15. Pengental, pembentuk gel dan penstabil. Sejumlah polisakarida dan bentuk modifikasinya, bahkan dalam konsentrasi yang rendah, dapat meningkatkan sistem viskositas, untuk membentuk gel, dan untuk menstabilkan emulsi, suspensi ataupun busa. Senyawa ini juga aktif mencegah kristalisasi (contoh dalam es krim), dan cocok untuk mengikat aroma ---sering diperlukan untuk makanan yang dikurangi kadar airnya (dehydrated food)---. Sifat-sifat tersebut menjadikan bahan tambahan polisakarida penting dalam proses pengolahan dan penyimpanan makanan. Diantara protein-protein, gelatin merupakan gel-forming agent yang digunakan secara luas dalam produk makanan.

16. Humektan. Beberapa polyols (1,2-propanediol, gliserol, mannitol, sorbitol) memiliki sifat higroskopis yang nyata dan berperan sebagai humektan, yaitu bahan tambahan untuk menjaga kelembaban makanan, kelembutan dan mencegah kristalisasi, sering dibutuhkan untuk produk permen. Ketika gliserol atau sorbitol ditambahkan ke dalam bubur sayur atau buah atau di dalam pembuatan makanan tepung lain sebelum tahap pengeringan akhir, produk dehydrated food akan memiliki sifat rehidrasi yang lebih baik.

17. Anticaking agents. Beberapa produk makanan, seperti garam, garam yang berasa (campuran bubuk bawang merah atau bawang putih dengan garam), tepung sayur dan buah, tepung sop dan saus dan baking powder, cenderung untuk mengeras menjadi gumpalan. Penggumpalan dapat dihindari dengan menambahkan sejumlah senyawa yang dapat menyerap air dan juga menyediakan lapisan pelindung hidrofobik. Senyawa anticaking antara lain: sodium-, potassium- dan calsium hexacyanoferrate (II), kalsium silikat, trikalsium phospat, magnesium silikat dan magnesium karbonat.

18. Pemutih. Pemutih umumnya digunakan dalam produksi tepung. Penghilangan yellow carotenoids dengan oksidasi dapat diperoleh dengan sejumlah senyawa yang tidak hanya dapat memutihkan tetapi juga memperbaiki baking quality dari tepung, diantaranya Cl2, ClO2, NOCl, NO2 dan N2O4. Enzim lipoksigenase juga memiliki aktivitas pemutihan yang efektif.

19. Clarifying agents. Dalam beberapa minuman seperti jus buah-buahan, kekeruhan dan pembentukan endapan dapat terjadi dengan melibatkan senyawa fenol, pektin dan protein. Hal ini dapat dikoreksi dengan (a) degradasi enzimatis partial dari pektin dan protein; (b) menghilangkan senyawa fenol dengan bahan penolong gelatin, polyamide atau tepung polyvinyl pyrroliodine, dan (c) menghilangkan protein dengan bentonite (aluminium silikat) atau tannin.

20. Propellants (Gas-gas pelindung). Makanan yang sensitif terhadap oksidasi dan atau kerusakan mikrobia dapat disimpan di dalam gas atau campuran gas (N2, CO2, CO, dan sebagainya; modified ataupun controlled atmosphere storage). Hal ini dapat memperpanjang umur simpan makanan. Makanan cair dapat dimasukkan dalam wadah yang diturunkan tekanan udaranya, jika diperlukan digunakan propellants, tidak digunakan untuk produk cream atau pasta (seperti cream cheese dan kecap).


Bahan Tambahan Yang Diijinkan dan Tidak Diijinkan untuk Digunakan dalam Makanan

Penggunaan BTM di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 722/MenKes/Per/IX/1988. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa BTM yang diijinkan antar lain: antioksidan, antikempal, pengatur keasaman, pemanis buatan, pemutih tepung, pengemulsi, penstabil dan pengental, pengawet, pengeras, pewarna, penyedap rasa dan aroma, penguat rasa serta sekuestran. Sedangkan bahan tambahan yang tidak boleh digunakan dalam makanan antara lain: boraks (natrium tetraborat), formalin (formaldehid), minyak nabati yang dibromasi, kloramfenikol, kalium klorat (potassium chlorate), dietilpirokarbonat (DEPC), nitrofuranzone, p-phenetilkarbida, asam salisilat dan garamnya. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1168/MenKes/PER/X/1999 penggunaan rhodamin B (pewarna merah), methanyl yellow (pewarna kuning), dulsin (pemanis sintesis) dan kalsium bromat (pengeras) juga dilarang (Cahyadi, 2006) (ESR).

Pesan Kebaikan bulan ini:
Tambahkan cinta ketika menyiapkan dan menyajikan menu makanan keluarga anda !


Senin, 11 Mei 2009

MADU

Pendahuluan

Merebaknya berbagai macam penyakit akhir-akhir ini, sangat patut untuk diperhatikan, apa penyebabnya, bagaimana mencegahnya dan mengobatinya. Ada penyakit yang disebabkan oleh pola makan yang salah, pergaulan yang salah, gaya hidup yang salah dan seterusnya. Penyakit diabetes dan hipertensi, mungkin lebih banyak disebabkan oleh pola makan yang salah, sedangkan penyakit AIDS lebih cocok digolongkan sebagai penyakit yang disebabkan oleh pergaulan yang salah karena kasus AIDS kebanyakan ditemukan pada pelaku free sex dan pemakai narkoba. Lalu apa penyebab penyakit flu burung dan flu babi? Penyakit ini pada awalnya disebabkan karena sanitasi yang buruk pada pemeliharaan binatang baik unggas maupun babi, virus selanjutnya menyebar karena kebiasaan tidak mencuci tangan dan mandi dengan antiseptik yang dapat membunuh kuman setelah menyentuh binatang-binatang tersebut ataupun produk yang dihasilkannya. Untuk mencegah “penderitaan” akibat berbagai penyakit tersebut, maka sejak saat ini dan seterusnya, marilah kita tinjau kembali pola makan, pergaulan dan gaya hidup kita, sudah baikkah? Bagaimana kalau kita ataupun orang terdekat kita terlanjur menderita suatu penyakit? Adanya suatu penyakit mengharuskan kita untuk berikhtiar untuk mencari penyembuhannya baik melalui pengobatan medis, operasi, terapi akupunktur, obat-obatan herbal dan sebagainya. Yang tidak kalah pentingnya adalah mengelola hati supaya sabar dan ikhlas menerimanya. Penyakit, insyaAllah dapat menggugurkan dosa-dosa kita sepanjang kita ikhlas menerimanya. 

Pada edisi kali ini, kami mengajak Pembaca untuk mengenal madu lebah (honey), karena Al-Qur’an merekomendasikannya sebagai obat yang dapat menyembuhkan penyakit. Kami akan mengutip dalil dan sedikit menguraikan tentang sifat-sifat fisik dan komposisi unsur-unsur yang terdapat di dalam madu sehingga dapat menyembuhkan penyakit.



Referensi Al-Qur’an

QS. An-Nahl (16) ayat 68 – 69 menyebutkan ”Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, ”Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari Perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berfikir (Sebagaimana tertuang dalam Syaamil Al-Qur’an, Terjemah per kata oleh Departemen Agama RI, 2007).

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah Volume 7, Cetakan ke VIII, Mei 2007 mengemukakan bahwa ayat diatas mengarahkan redaksinya kepada Nabi Muhammad SAW dengan menyatakan: Dan ketahuilah wahai Nabi agung bahwa Tuhanmu yang membimbing dan selalu berbuat baik, telah mewahyukan, yakni mengilhamkan kepada lebah sehingga menjadi naluri baginya bahwa: “Buatlah sebagaimana keadaan seorang yang membuat secara sungguh-sungguh, sarang-sarang pada sebagian gua-gua pegunungan dan di sebagian bukit-bukit dan pada sebagian celah-celah pepohonan dan pada sebagian tempat-tempat tinggi yang mereka, yakni manusia buat. Kemudian makanlah, yakni hisaplah dari setiap macam kembang buah-buahan, lalu tempuhlah jalan-jalan yang teolah diciptakan oleh Tuhanmu Pemeliharamu dalam keadaan mudah bagimu.

Dengan perintah Allah SWT kepada lebah yang mengantarnya memiliki naluri yang demikian mengagumkan, lebah dapat melakukan aneka kegiatan yang bermanfaat dengan sangat mudah, bahkan bermanfaat untuk manusia. Manfaat itu antara lain adalah senantiasa keluar dari dalam perutnya setelah menghisap sari kembang-kembang, sejenis minuman yang sungguh lezat yaitu madu yang bermacam-macam warnanya sesuai dengan waktu dan jenis sari kembang yang dihisapnya. Di dalamnya, yaitu pada madu itu terdapat obat penyembuhan bagi manusia walaupun kembang yang dimakannya ada yang bermanfaat dan ada yang berbahaya bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan dan kebesaran Allah bagi orang-orang yang berfikir.

Bagaimana proses terbentuknya madu secara ilmiah?

Madu dihasilkan oleh lebah madu. Lebah menghisap nektar dari kembang-kembang atau larutan manis lain yang ditemukan pada tanaman, menyimpan nektar dalam kantung madu, dan memperkayanya dengan substansi lebah sendiri untuk membuat perubahan-perubahan. Ketika lebah kembali ke sarang, mereka menyimpan nektar di dalam sisir-sisir lebah untuk penyimpanan dan pemasakan. Produksi madu dimulai segera setelah polen bunga, nektar dan honeydew dikumpulkan dan disimpan di dalam kantung lebah. Campuran bahan baku selanjutnya diberikan kepada lebah pekerja di dalam sarang untuk menyimpan di dalam sel individu yang berbentuk segi enam pada sisir-sisir lebah. Perubahan nektar menjadi madu di dalam sel melalui tahap-tahap sebagai berikut: penguapan air dari nektar, kemudian mengental, kadar gula invert meningkat melalui hidrolisis sukrosa oleh asam-asam dan enzim-enzim yang dihasilkan oleh lebah, sementara isomerisasi tambahan dari glukosa menjadi fruktosa terjadi di dalam kantung lebah, absorbsi protein dari tanaman dan lebah, dan asam-asam dari tubuh lebah, asimilasi mineral-mineral, vitamin-vitamin dan senyawa aroma yang berasal dari tanaman yang dimakan lebah, dan penyerapan enzim dari kelenjar ludah dan kantung madu lebah. Ketika kadar air madu menurun menjadi 16 - 19%, sel ditutup dengan tutup lilin dan pemasakan terus berlanjut, yang direfleksikan dengan berlanjutnya hidrolisis sukrosa oleh enzim invertase dan ditambah dengan sintesis gula-gula (Belitz and Grosch, 1987).

Sifat-sifat Fisik Madu

Densitas madu pada suhu 20oC tergantung pada kadar air dan kira-kira berkisar pada 14% sampai dengan 21%. Madu bersifat higroskopis (menyerap air) karenanya harus disimpan dalam wadah yang kedap air. Sebagian besar madu memiliki sifat-sifat sebagai Newtonian fluids. Beberapa jenis, seperti madu alfafa menunjukkan sifat thixotropic yang menunjukkan adanya kandungan protein-protein, ataupun menunjukkan sifat dapat membesar (seperti pada madu kaktus) yang disebabkan oleh adanya sejumlah dextran. Panas spesifik madu pada (20oC; 17,4% air) adalah 2,26J/g/oC. Karena madu merupakan konduktor panas yang buruk, maka pemanasan madu menggunakan microvawe merupakan alternatif yang paling baik. Pemanasan 1 liter madu selama 1 jam dari suhu 30 sampai dengan 55oC membutuhkan energi 25 kW.

Komposisi Madu

Madu secara esensial merupakan konsentrasi larutan gula invert encer, tetapi juga mengandung campuran yang sangat komplek yang terdiri dari karbohidrat lain, beberapa enzim, asam amino dan organik, mineral, senyawa aroma, pigmen (zat warna), lilin, polen dan lain-lain. Komposisi madu (dalam %) selengkapnya sebagai berikut: kadar air 17,2% (13,4 - 22,9%); fruktosa 38,2% (27,3 - 44,3%); glukosa 31,3% (22,0 - 40,8%); sakarosa 1,3% (0,3 - 7,6%); maltosa 7,3% (2,7 - 16%); gula-gula yang lebih tinggi 1,5% (0,1 - 8,5%); lain-lain 3,1% (0 - 13,2%); nitrogen 0,04% (0 - 0,13%); mineral (abu) 0,17% (0,02 - 1,03%); asam-asam bebas (free acids) 22 mequivalents/kg (6,8 - 47,2 mequivalents/kg); Lakton (Lactones) 7,1 mequivalents/kg (0 - 18,8 mequivalents/kg), Total asam 29,1 mequivalents/kg (8,7 - 59,5 mequivalents/kg); nilai pH 3,9 (3,4 - 6,1); Diastase-value (nilai α- dan β-amilase) 20,8 (2,1 - 61,2). Angka yang disebutkan merupakan nilai rata-rata, sedangkan angka yang di dalam kurung menunjukkan kisaran.

a. Air. Kadar air madu harus lebih kecil dari 20%. Madu dengan kadar air lebih tinggi akan rentan terhadap fermentasi ragi osmofilik. Fermentasi ragi dapat diabaikan ketika kadar air madu kurang dari 17,1%, sementara pada kadar air berkisar 17,1% - 20% fermentasi tergantung pada jumlah ragi osmofilik.

b. Karbohidrat-karbohidrat. Fruktosa (rata-rata 38%) dan glukosa (rata-rata 31%) merupakan gula utama di dalam madu. Monosakarida lain belum ditemukan. Terdapat lebih dari 20, di- dan oligosakarida yang telah teridentifikasi, terutama maltosa diikuti oleh kojibiose. Kadar sukrosa bervariasi tergantung tingkat kemasakan madu. Komposisi disakarida sangat dipengaruhi oleh tanaman darimana madu berasal, namun pengaruh daerah ataupun musim dapat diabaikan.

c. Enzim-enzim. Kebanyakan enzim utama di dalam madu adalah α-glukosidase, invertase atau sakarase, α- dan β-amilase (diastase), glukosa oksidase, katalase dan asam fosfatase.

d. Protein. Protein-protein madu sebagian berasal dari tanaman dan sebagian berasal dari lebah madu.

e. Asam-asam amino. Madu mengandung asam-asam amino bebas pada level 100mg/100 g padatan. Proline, ---mungkin berasal dari lebah---merupakan prevalent asam amino dan berkisar 50 – 85% dari fraksi asam amino. Berdasarkan rasio beberapa asam amino, dimungkinkan untuk mengidentifikasi geografis atau daerah asal madu.

f. Asam-asam organik. Secara prinsip, asam organik di dalam madu adalah asam glukonik, yang dihasilkan oleh aktivitas glukosa oksidase. Di dalam madu kadar asam glukonik berada dalam kondisi seimbang dengan kadar glukonolakton. Kadar asam terutama tergantung pada lamanya waktu yang dilewati antara pengumpulan nektar oleh lebah dan waktu ketika pengentalan akhir madu yang terjadi di dalam sel-sel yang terdapat pada sisir lebah. Aktivitas glukosa oksidase menurun sampai pada tingkat dapat diabaikan pada madu yang telah mengental. Asam-asam lain (dalam jumlah kecil) yang terdapat dalam madu diantaranya asetat, butirat, laktat, sitrat, maleat, malat dan asam-asam oksalat.

g. Senyawa aroma. Ada sekitar 120 senyawa volatil yang terdapat di dalam madu, dan lebih dari 80 yang telah diidentifikasi, diantaranya ester-ester dari asam-asam alifatik dan aromatic, aldehid, keton dan alkohol. Yang paling nyata adalah ester dari asam fenilasetat yang berperan dalam memberikan bau dan aroma tertentu pada madu. Adanya asam anthranilik merupakan ciri dari madu yang berasal dari bunga lemon dan lavender.

h. Pigmen (zat warna). Belum banyak diketahui tentang zat warna pada madu. Warna madu berasal dari senyawa-senyawa fenol dan dari hasil reaksi-reaksi pencoklatan non enzimatis antara asam-asam amino dan fruktosa.

Penyimpanan

Warna madu umumnya menjadi gelap, intensitas aroma menurun, kadar hidroksimetil furfural meningkat tergantung pada pH, lama waktu penyimpanan dan suhu (temperatur). Inversi enzimatis dari sukrosa juga berlanjut pada level yang rendah bahkan ketika madu telah mencapai dentitas terakhirnya. Madu harus dihindarkan dari kelembaban dan penyimpanan pada suhu dibawah 10oC. Temperatur terbaik yang digunakan untuk menyimpan madu berkisar pada 18 – 24oC.

Penutup

Setelah kita tahu bahwa Allah merekomendasikan madu untuk menyembuhkan penyakit, masihkah kita ragu untuk mencobanya? Apalagi ilmu pengetahuan telah berhasil mengungkap “rahasia” dibalik khasiat madu. Ternyata, ada begitu banyak zat yang terdapat di dalam madu yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Selain untuk membantu penyembuhan penyakit, madu juga bagus untuk menjaga stamina tubuh, menambahkan madu dalam minuman ataupun mengoleskannya pada roti adalah akan meningkatkan daya tahan tubuh. Akan lebih baik lagi jika madu dikonsumsi berbarengan dengan produk lebah lainnya seperti bee pollen, propolis dan royal jelly (ESR).

Pesan Kebaikan Bulan ini:

Manfaatkan waktu sehat untuk menggapai cita dan menolong sesama sebelum sakit menghampiri!


Minggu, 10 Mei 2009

PEREMPUAN DAN KEAMANAN PANGAN KELUARGA

Pendahuluan

Dewasa ini, peran produksi dan pengolahan pangan yang pada awalnya dipegang oleh perempuan sebagian besar telah diambil alih oleh produsen/industri pangan. Kondisi ini, di satu sisi menguntungkan kita karena tidak perlu mengeluarkan energi yang besar dalam menyiapkan pangan. Namun di sisi lain, kondisi ini menghawatirkan karena kita tidak bisa mengetahui dan mengontrol secara langsung bahan makanan yang dikosumsi oleh anggota keluarga. Kita tidak bisa mengetahui apakah bahan makanan yang mereka beli diolah secara bersih, menggunakan bahan-bahan yang aman, kandungan gizinya cukup, dan tidak mengandung bahan yang dilarang oleh hukum agama. Munculnya kasus-kasus keracunan dan pemalsuan bahan makanan , mengharuskan kita untuk terus-menerus belajar tentang pangan. Empat (4) masalah utama mutu dan keamanan pangan antara lain:

1. Beredarnya secara bebas aneka produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan mutu pangan (mengandung bahan tambahan pangan terlarang atau melebihi batas, mengandung cemaran kimia dan mikroba, pelabelan yang tidak memenuhi syarat, kadaluwarsa dan pemalsuan produk).

2. Tingginya kasus keracunan makanan baik yang dilaporkan maupun yang tidak dilaporkan sehingga tidak semua dapat diidentifikasi penyebabnya.

3. Rendahnya pengetahuan, ketrampilan dan tanggung jawab produsen pangan tentang mutu dan keamanan pangan terutama pada pelaku industri kecil/rumah tangga.

4. Rendahnya kepedulian konsumen terhadap mutu dan keamanan pangan sebagai akibat dari keterbatasan pengetahuan dan rendahnya daya beli.

Oleh karena itu salah satu upaya yang penting dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas adalah dengan meningkatkan pengetahuan kita tentang berbagai produk pangan yang dijual di pasaran serta cara mendeteksi bahaya suatu produk pangan. Dengan demikian kita dapat memutuskan secara cerdas dalam membeli dan mengkonsumsi produk pangan yang aman dan baik bagi seluruh anggota keluarga. Sebagai ibu rumah tangga kita harus memiliki budaya kritis terhadap berbagai produk makanan yang beredar di pasaran sehingga akan mendorong para produsen pangan untuk memproduksi produk mereka secara baik dan terstandarisasi serta mendorong pemerintah untuk lebih aktif melakukan tindakan pengawasan terhadap produk pangan yang beredar di masyarakat.

Produk pangan tak aman mengepung kita

Produksi dan peredaran pangan yang tidak aman akan mengakibatkan ancaman bagi kesehatan masyarakat, kecerdasan generasi muda, yang selanjutnya akan menurunkan daya saing bangsa. Dari berbagai jenis produk pangan yang beredar di masyarakat diperkirakan sebagian diantaranya tidak memenuhi persyaratan. Produk pangan tersebut umumnya dibuat menggunakan bahan tambahan pangan yang dilarang atau melebihi batas aman penggunaan; merupakan pangan yang tercemar bahan kimia atau mikroba; pangan yang sudah kadaluwarsa; pangan yang tidak memenuhi standar mutu dan komposisi serta makanan impor yang tidak sesuai persyaratan. Penggunaan bahan tambahan makanan pada makanan jajanan berada pada tingkat yang cukup menghawatirkan karena jumlah yang diperiksa sekitar 80%-nya tidak memenuhi persyaratan.

Penggunaan bahan tambahan yang tidak sesuai diantaranya adalah: (1) Pewarna berbahaya (rhodamin B. methanyl yellow dan amaranth) yang ditemukan terutama pada produk sirop, limun, kerupuk, roti, agar/jeli, kue-kue basah, makanan jajanan (pisang goreng, tahu, ayam goreng dan cendol). Dari sejumlah contoh yang diperiksa ditemukan 19,02% menggunakan pewarna terlarang; (2) Pemanis buatan khusus untuk diet (siklamat dan sakarin) yang digunakan untuk makanan jajanan. Sebanyak 61,28% dari contoh makanan jajanan yang diperiksa menggunakan pemanis buatan; (3) Formalin untuk mengawetkan tahu dan mie basah; dan (4) Boraks untuk pembuatan kerupuk, bakso, empek-empek dan lontong. Pada pengujian terhadap minuman jajanan anak sekolah di 27 propinsi ditemukan hanya sekitar 18,2% contoh yang memenuhi persyaratan penggunaan BTP, terutama untuk zat pewarna, pengawet dan pemanis yang digunakan sebanyak 25,5% contoh minuman mengandung sakarin dan 70,6% mengandung siklamat.

Pestisida, logam berat, hormon, antibiotika dan obat-obatan lainnya yang digunakan dalam kegiatan produksi pangan merupakan contoh cemaran kimia yang masih banyak ditemukan pada produk pangan, terutama sayur, buah-buahan dan beberapa produk pangan hewani. Sedangkan cemaran mikroba umumnya banyak ditemukan pada makanan jajanan, makanan yang dijual di warung-warung di pinggir jalan, makanan katering, bahan pangan hewani (daging, ayam dan ikan) yang dijual di pasar serta makanan tradisional lainnya. Hasil pengujian di 8 Balai Laboratorium Kesehatan Propinsi menemukan 23,6% contoh makanan positif mengandung bakteri Escheresia coli, yaitu bakteri yang digunakan sebagai indikator sanitasi. Dalam pelabelan produk pangan, dari sejumlah contoh label yang diperiksa sebanyak 27,30% - 26,76% tidak memenuhi persyaratan dalam hal kelengkapan dan kebenaran informasi yang tercantum dalam label (maka tidak mengherankan jika saat ini ditemukan kasus dendeng babi bergambar sapi dan berlabel halal). Sedangkan dari sejumlah contoh iklan yang diperiksa terutama karena memberikan informasi yang menyesatkan (mengarah ke pengobatan) dan menyimpang dari peraturan periklanan. Produk pangan kadaluwarsa terutama diedarkan untuk bingkisan atau parcel Hari Raya/Tahun Baru. Dari sejumlah penjual parcel yang diperiksa sekitar 33,22%-43,57% menjual produk kadaluwarsa.

Peredaran produk pangan yang tidak memenuhi standar mutu dan komposisi masih banyak pula ditemukan. Dari sejumlah contoh garam beryodium yang diperiksa sekitar sebanyak 63,30%-48,73% contoh tidak memenuhi persyaratan kandungan KIO3.

Produk pangan impor yang tidak memenuhi persyaratan masih banyak yang beredar di pasaran. Survei menunjukkan 69,2% produk tidak mempunyai nomor ML (izin peredaran dari Departemen Kesehatan) dan 28,1% tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa. Ditemukan pula sayuran dan buah-buahan impor yang mengandung residu pestisida yang cukup tinggi serta mikroba dalam jumlah dan jenis yang tidak memenuhi persyaratan pada produk pangan hewani.

Menyiapkan Makanan Yang Aman, Baik dan Halal Bagi Keluarga

Makanan adalah bagian penting dari kehidupan sebuah keluarga. Kegiatan menyiapkan makanan adalah kegiatan yang bukan hanya menyangkut kebutuhan fisik bagi anggota keluarga, melainkan juga kegiatan yang erat kaitannya dengan cinta, kasih sayang, emosi keluarga dan kesehatan. Oleh karena itu sepanjang denyut nadi kehidupan keluarga masih ada, selama itu pula kegiatan menyiapkan makan tetap harus dilakukan oleh anggota keluarga. Maka apapun yang terjadi, kita tetap harus bisa menikmati makanan, hanya saat ini kita butuh pengetahuan dan ketelitian dalam menyiapkan makanan bagi seluruh anggota keluarga.

Dalam menyiapkan makanan kita bisa saja menggunakan bahan olahan siap santap, atau kita memproses sendiri makanan dari bahan mentah hingga siap saji. Saat anda membeli bahan makanan siap santap di supermarket atau warung, hendaklah memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Teliti kandungan bahan makanan yang terkandung dalam label, jika terlalu banyak komponen pengawet, perasa atau pewarna sebaiknya jangan dikonsumsi.

2. Teliti apakah ada ijin dari BPOM dengan nomor seri tertentu, juga akan lebih baik jika produk tersebut dilengkapi dengan informasi halal yang berasal dari Majelis Ulama Indinesia (label berbentuk lingkaran, dengan tulisan halal (arab) dan disekelilingnya ada tulisan Majelis Ulama Indonesia. Label ini dikeluarkan oleh LPPOM MUI yang memiliki standard ketat dalam pemeriksaannya.

3. Cek tanggal produksi dan kedaluwarsa produk. Jangan membeli produk kedaluwarsa.

Jika ibu membeli makanan siap saji dari warung/rumah makan/bakery maka pastikan untuk menanyakan hal-hal sebagai berikut :

1. Ada tidaknya olahan haram yang dimasak di rumah makan tersebut (misalnya babi, ular dan sebagainya). Jika ada maka sebaiknya dihindari karena meskipun anda memesan daging non babi, kita tidak bisa menjamin penggunaan peralatannya atau mungkin saja minyak bekas dipakai menggoreng daging yang tidak halal dipakai kembali untuk memasak makanan yang lain.

2. Untuk restoran jepang sebaiknya tanyakan apakah mereka menggunakan jenis arak yang memabukkan. Jika ya sebaiknya tinggalkan. Dewasa ini ada restoran Jepang yang telah mendapat label halal dari MUI, jadi sebaiknya kita lebih berhati-hati.

3. Jika anda membeli bakso, pangsit, mie ayam di pedagang kaki lima, tanyakan apakan mereka menggunakan daging halal dengan sembelihan yang halal pula. Meskipun hal ini belum bisa menjamin kehalalan makanan yang dijual namun setidaknya anda sudah mendidik para produsen untuk lebih berhati-hati dalam memproses produk makanan yang mereka jual. Jika anda ragu-rau, lebih baik ditinggalkan.

4. Jika anda memesan makanan di katering untuk sebuah acara, pastikan bahwa pihak katering menyiapkan bahan makanan segar dan tidak mengolahnya dalam jangka waktu lebih dari 12 jam dari sampai saat penyajian. Cek terlebih dahulu nasi bungkus atau nasi kotak yang akan disajikan, jika ada indikasi bau atau basi, jangan dibagikan. Penundaan waktu memasak pada udang, dan aneka jenis daging bisa berbahaya karena kemungkinan sudah adanya bakteri yang tetap tahan meski bahan telah dimasak.

Perlu diketahui bahwa keracunan makanan seringkali disebabkan oleh bakteri dari makanan yang ditanganani, disimpan atau dimasak kurang sempurna. Makanan tersebut mungkin saja tampak normal dari segi penampilan, rasa ataupun baunya.

Jika anda menyiapkan sendiri makanan bagi keluarga dari bahan mentah, maka hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Selalu cuci bersih (dengan air mengalir) seluruh bahan yang dibeli sebelum disimpan di kulkas.

2. Penyimpanan ikan, udang, daging hendaklah menggunakan wadah tertutup atau dibungkus alumunium foil/plastik yang bersih untuk mencegah kontaminasi bakteri atau penyebaran bau yang kurang sedap. Berikut adalah jenis-jenis bahan makanan yang disukai oleh bakteri : daging sapi, daging ayam, susu dan olahannya, telur, makanan laut, nasi, pasta.

3. Daging, ikan dan telur harus dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi. Jika anda memasak sayuran setengah matang atau mengkonsumsi sayuran mentah, pastikan sayuran sudah dicuci bersih. Pemanasan sesaat pada sayuran tetap disarankan untuk mencegah mikroba merugikan yang mungkin masih terikut pada sayuran.

4. Jika anda penggemar jus, lakukan pasteurisasi sederhana dengan merendam botol jus yang telah dibuat pada air bersuhu 70oC selama beberapa menit sebelum disimpan. Jangan lupa mencuci buah dengan air mengalir sebelum diolah menjadi jus.

5. Potonglah kuku, jangan menggaruk kepala, gunakan celemek saat memasak, agar mikroba dari tubuh tidak menular ke makanan.

6. Bubuhi masakan anda dengan rasa cinta yang besar bagi keluarga, jangan lupa berdoa agar makanan yang disiapkan berguna bagi seluruh anggota keluarga.

Penutup

Setiap tahun selalu terjadi kasus keracunan makanan yang menyebabkan kematian atau diare akut masal yang membahayakan kesehatan jiwa terutama di kalangan anak-anak dan lansia. Pada tahun 1994/1995 misalnya terdapat 1.552 orang menderita sakit dan 25 orang meninggal, sedangkan tahun 1995/1996 dilaporkan sebanyak 30 kasus dengan 92 orang menderita dan 13 orang meninggal. Diperkirakan jumlah kasus yang dilaporkan ini masih sangat rendah dibandingkan keadaan sebenarnya yang terjadi. WHO (1998) memperkirakan perbandingan antara kasus keracunan makanan yang dilaporkan dan yang sebenarnya terjadi adalah 1 : 10 untuk negara maju dan 1 : 25 untuk negara yang sedang berkembang. Ini berarti keracunan makanan yang pada umumnya diakibatkan oleh kelalaian dalam menjaga kebersihan makanan saat menyiapkan makanan merupakan permasalahan serius yang harus mendapat perhatian kita semua. Sebagai perempuan, kita memiliki kewajiban untuk menjaga keamanan pangan keluarga dengan menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai nutrisi pangan, bahan tambahan pangan, cara menyiapkan pangan yang baik serta cara bijak dalam mengkonsumsi produk-produk olahan bagi seluruh anggota keluarga kita (SAM/ESR).

Pesan Kebaikan bulan ini:
Cara bijaksana untuk mensyukuri hidup adalah dengan memanfaatkannya  untuk menjalankan perintah-NYA dan menjauhi larangan-NYA


TAHUN BARU, BACK TO AL QUR’AN, RAIH KEBAHAGIAAN!

Pendahuluan

Waktu terus berputar, hari terus berganti dan tibalah kita di Tahun Baru 1430 Hijriyah yang jatuh hampir bersamaan dengan Tahun Baru 2009 Masehi. Apa itu artinya? Tidak salah lagi, usia kita semakin bertambah sekaligus pertanda bahwa ajal kita semakin mendekat. Pembaca, marilah kita mawas diri, bertanya kepada diri sendiri, sudahkah akhak kita sesuai dengan yang diteladankan oleh Rasulullah SAW. Bagaimanakah akhlak Rasulullah SAW? Aisyah RA ketika ditanya perihal tersebut menjawab bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah akhlak Al Qur’an, lalu beliau membaca QS. Al Mu’minύn ayat 1 sampai dengan 10 ---ayat-ayat tersebut menguraikan tentang sifat-sifat orang mukmin. Oleh karena itu marilah kita memanfaatkn momen tahun baru ini untuk memperbaiki diri sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, selagi umur masih melekat di badan. 

Saudaraku, setujukah anda kalau kita mengisi tahun baru ini dengan semangat baru, semangat untuk meraih kebahagian! Bagaimanakah caranya? Allah SWT telah memberikan tuntunan dalam QS. Al Mu’minύn. Dalam surat tersebut diuraikan tentang sifat-sifat orang mukmin yang berimplikasi langsung terhadap kebahagiaan. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah Volume 9 cetakan VIII, Juli 2007 membahas secara detil kaitan mengenai hal tersebut. Raih kebahagian, back to Al Qur’an!

Definisi

Orang mukmin adalah orang yang telah mantap imannya,

Sifat-sifat Al Mu’minύn

1. Sholatnya khusyu’. QS. Al Mu’minύn 23 ayat 1-2: “Sesungguhnya telah beruntunglah orang-orang mukmin (yaitu) mereka yang khusyu’ dalam sholatnya”. Khusyu’ merupakan upaya menghadirkan kebesaran Allah SWT di dalam benak ketika kita sedang sholat. Ulama fiqih memandang kewajiban sholat dan khusyu’ yang ditetapkan Allah SWT dapat diibaratkan dengan kehadiran kita dalam sebuah pameran lukisan. Dari keseluruhan yang menghadiri pameran tersebut terdapat beberapa tingkatan. Ada yang hadir tanpa mengerti sedikitpun --- apalagi menikmati keindahan lukisan; ada yang tidak mengerti tetapi berusaha mempelajari dan bertanya; ada lagi yang mengerti dan menikmatinya; dan ada pula yang demikian paham dan menikmati, sehingga terpukau dan terpaku, tidak menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya bahkan jika ada yang menyapanya. Orang mukmin yang khusyu’ dalam sholatnya akan berpembawaan tenang dan rendah hati sehingga kehadirannya akan menyenangkan orang-orang di sekitarnya, hal ini akan berimplikasi kepada terciptanya ketenteraman masyarakat dan kebahagian bagi diri sendiri karena tidak memiliki konflik dengan orang lain.

2. Tidak mengerjakan hal-hal yang tidak bermanfaat. QS. Al Mu’minύn 23 ayat 3: “Dan mereka yang terhadap al-laghw adalah orang-orang yang tidak acuh”. Al laghw berasal dari lagha yang berari batal, yakni sesuatu yang seharusnya tidak ada. Ini berbeda antara satu waktu dengan waktu lainnya, sehingga bisa saja suatu ketika ia dinilai tidak berfaedah sehingga menjadi laghw, dan di kali lain ia berfaedah. Menegur kekeliruan adalah baik, namun menegur kekeliruan saat khatib Jumat menyampaikan khutbahnya dinilai oleh Rasul SAW sebagai laghw (sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan). Laghw sebenarnya masuk dalam kategori mubah, yakni sesuatu yang tidak terlarang, tetapi tidak ada kebutuhasn atau manfaat yang diperoleh ketika melakukannya. Banyak sekali aktivitas, ucapan, perhatian dan perasaan yang dapat termasuk dalam kategori laghw. Namun perlu dicatat bahwa hal ini tidak berarti seorang mukmin harus selalu serius, tidak mengenal senyum atau canda, yang tidak boleh adalah membuat lelucon yang melengahkan kita dari tugas. Menurut isteri beliau Aisyah ra., “Rasulullah SAW adalah seorang yang sering tersenyum dan tertawa, bahkan tertawa sampai terlihat gigi geraham beliau ---walau tidak terbahak--- dan tidak mengucapkan kecuali yang haq.’’ Menurut riwayat, suatu ketika ada seorang wanita tua datang kepada beliau memohon didoakan agar masuk surga, maka beliau bersabda: “ Surga tidak dimasuki oleh wanita tua”. Wanita tersebut kelihatan tkecewa, dan ketika itu Rasul SAW tersenyum dan membacakan kepadanya firman Allah: “Sesungguhnya Kami jadikan mereka dengan langsung. Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, untuk kelompok kanan (penghuni surga)” (QS. AL-Wâqi’ah (56): 35 - 38).

3. Membayar zakat dengan sempurna. QS. Al Mu’minύn 23 ayat 4: “Dan mereka yang menyangkut zakat adalah pelaksana-pelaksana”. Manusia hampir tidak luput dari mengerjakan laghw, karena menghindarinya bukanlah perkara yang mudah. Jika membayar fidyah dapat membebaskan kita dari ucapan sumpah yang dibatalkan, maka melalui zakat, infak dan sedekah dapatlah membebaskan manusia dari dosa atau kekeliruan karena melakukan al laghw. Kata zakâh dari segi bahasa berari suci dan berkembang. Ini karena menafkahkan harta mengantar kepada kesuciannya dan kesucian jiwa penafkah, selain itu juga menjadi penyebab bagi pemngembangan harta tersebut. Iman yang mantap akan mendorong penyandangnya untuk menafkahkan sebagian hartanya, dan ini dapat mengantar masyarakat menikmati kecukupan bahkan kebahagian yang juga akan ikut berperan dalam kebahagiaan pemberi, karena kesempurnaan kebahagiaan seseorang adalah keberadaannya di tengah masyarakat yang bahagia. Zakat, infak dan sedekah dapat mempererat hubungan sosial, sehingga masing-masing anggota masyarakat merasakan dan bertanggung jawab atas derita yang dialami oleh anggota lainnya. Hal ini lebih lanjut akan berdampak pada terkikisnya dengki dan iri hati (baca QS. Muhammad (47) : 36 – 37).

4. Memelihara kemaluan. QS. Al Mu’minύn 23 ayat 5 - 7: “Dan mereka menyangkut kemaluan mereka adalah pemelihara-pemelihara kecuali terhadap pasangan-pasangan mereka atau budak wanita yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidaklah dicela. Barang siapa mencari dibalik itu, maka mereka itulah pelampau-pelampau batas”.

Dalam upaya penyucian jiwa manusia, yang pertama dan utama untuk disucikan adalah alat kelamin, karena perzinahan adalah puncak kebejatan moral serta perusakan generasi dan masyarakat. Dari segi sosial, zina dapat menyebabkan tidak diketahuinya aslaa keturunan anak secara pasti. Sedangkan dari segi kesehatan, zina dapat menyebabkan penyakit gonore, raja singa, luka, AIDS, cacat ataupun kematian pada bayi yang dilahirkan. Dari segi kesehatan mental, zina termasuk homoseksual dapat menimbulkan perasaan bersalah dan berdosa yang pada akhirnya dapat berakibat pada lemahnya syaraf. Makna pemeliharaan dalam konteks ayat diatas meluas sehingga mencakup tuntunan Nabi SAW agar memilih pasangan yang tepat dan baik, tidak berdasar kecantikan dan ketampanan saja. “Pilihlah tempat kamu meletakkan nuthfah kamu, karena gen itu berpengaruh” demikian pesan Nabi Muhammad SAW.

5. Memelihara amanat dan perjanjian. QS. Al Mu’minύn 23 ayat 8: “Dan mereka yang terhadap amanat-amanat mereka dan perjanjian mereka adalah pemelihara-pemelihara”. Amanat yang berada dalam pundak kita meliputi 4 aspek. Pertama, antara manusia dengan Allah, seperti aneka ibadah dan nazar; Kedua, antara seseorang dengan orang lain, seperti titipan, rahasia, dll.; Ketiga, antara kita dengan lingkungan, menyangkut pemeliharaannya agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang; Keempat, amanat dengan diri sendiri, misalnya menyangkut kesehatan. Memelihara pernikahan termasuk dalam kategori menjaga amanat dan perjanjian.

6. Memelihara sholat. QS. Al Mu’minύn 23 ayat 9: “Dan mereka menyangkut sholat-sholat mereka selalu memelihara (nya)”. Ibadah sholat merupakan amanah dari Allah yang harus dipelihara pelaksanaannya pada waktu yang telah ditetapkan dilengkapi dengan rukun dan sunnah-sunnahnya. Sholat yang benar dan baik akan menjauhkan pelakunya dari sifat keji dan munkar, sehingga tidak melakukan hal-hal buruk yang dapat merugikan diri sendiri, masyarakat dan alam sekitarnya. Hal ini akan mengantar kepada terbangunnya masyarakat yang tertib dan damai sehingga para anggotanya dapat meraih kebahagiaan.

Orang mukmin dijanjikan Allah menjadi pewaris surga firdaus, sebagaimana firmannya dalam QS. Al Mu’minύn 23 ayat 10 – 12: Mereka itulah pewaris-pewaris, orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka di dalamnya adalah orang-orang yang kekal” (ESR).

Pesan Kebaikan Bulan Ini:  
Kebahagian sejati hanya dapat diraih jika kita peduli dan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita.